Pengabaian Negara-negara Muslim Terhadap Muslim Uighur Sungguh Kejam

Ketgam : Novida Balqis Fitria Alfiani
Ketgam : Novida Balqis Fitria Alfiani

Penulis : Novida Balqis Fitria Alfiani

 

Penindasan muslim Uyghur di Xinjiang China jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Namun pada kenyataan pada saat ini, belum ada pembelaan dan tindak yang pasti dari negara-negara muslim atas tindakan kejahatan ini. Tidak ada yang tahu, kapan penindasan di Xinjiang ini akan berakhir. Negara-negara muslim saat ini seperti menutup mata, dan belum ada tindakan pasti untuk menolong warga muslim di Xinjiang ini.

Dilansir dari bbc.com menurut Pangamat Politik Islam Internasional, Syahrul Hidayat, negara-negara muslim saat ini seperti Indonesia selama ini mengabaikan mengabaikan persoalan muslim Uighur karena mereka tidak kuat dihadapan China.

Bahkan wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla juga mengabaikan penderitaan muslim Uighur. “Kalau masalah domestik, tentu kita tidak ingin mencampuri masalah Uighur. Tapi secara umum, penghentian pelanggaran HAM juga harus kita perjuangkan” ujarnya kepada wartawan. (bbc.com, 19/11/2018)

Dan juga pernyataan dari pengamat politik Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah berpendapat. “Ketergantungan ekonomi yang tinggi atas China di bidang perdagangan dan investasi, dalam konteks bilateral dan CAFTA, memaksa RI berpikir panjang dan mendalam sebelum membuat kebijakan atas praktik pelanggaran HAM yang terjadi di Xinjiang,” ujarnya pada cnnindonesia.com, Selasa (18/12)

“RI tidak memiliki kapabilitas untuk menekan China di level regional karena China yang tersudutkan berpotensi merusak kerja sama dengan ASEAN dan ASEAN centrality melalui tiga negara yang amat bergantung pada bantuan pembangunan Beijing yakni Kamboja, Laos, dan Myanmar,” ujar Teuku (cnnindonesia.com, 18/12/2018)

Pengabaian terhadap penindasan muslim Uighur menunjukkan kurang tegasnya pemerintah Indonesia ataupun negara muslim lainnya. Dan juga ketergantungan negara-negara muslim terhadap China, yang mempunyai kesejahteraan ekonomi. Padahal, penindasan China terhadap muslim Uighur di Xinjiang sungguh ganas dan kejam. Perlakuan China terhadap Muslim Uighur diperlakukan tidak selayaknya seorang manusia, bahkan bisa dikatakan lebih kejam.

BACA JUGA :   Kasus Uighur , Negara Lemah Tak Berdaya

Dilansir dari republika.co.id, terdapat kesaksian-kesaksian yang dikumpulkan oleh the Associated Press pada Selasa (18/12), para tahanan dipaksa bekerja setelah menjalani indoktrinasi Partai Komunis China, dilarang menggunakan bahasa etnis mereka sendiri, dan tidak boleh menjalankan ibadah ritual agama Islam.

Belasan yang sempat ditahan atau memiliki keluarga di kamp menuturkan para tahanan tidak diberi pilihan lain selain bekerja di pabrik-pabrik di sekitar kamp reedukasi. Sebagian koridor antara kamp tahanan dan pabrik-pabrik itu dilaporkan dipagari kawat duri dan diawasi dari menara. (republika.co.id, 19/12/2018).

Dari fakta penindasan tersebut, justru pemerintah China menyangkal tudingan pelanggaran HAM. Dan manyatakan kamp tersebut cuma bagian dari “pelatihan”. (cnnindonesia, 18/12/2018)

Sungguh menyakitkan. Disaat kaum muslim tertindas dan butuh pertolongan, dimanakah pertolongan dari umat Muslim? Bukankah umat Muslim bagaikan satu tubuh? Jika satu bagian tubuh saja terluka dan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit. Begitulah seharusnya kita sebagai sesama umat Muslim. Jika bagian tangan kita terluka, bukankah seluruh tubuh kita juga bereaksi? Mata menangis, mulut mengaduh, dan bagian tubuh lainnya tidak akan menyentuh bagian tangan yang terluka. Itulah ibaratnya

Sama seperti saat ini. Bukankah seharusnya jika ada salah satu saudara sesama Muslim dari kita tertindas dan butuh pertolongan, kita seharusnya ikut sedih dan segera menolongnya juga? Sesama umat Muslim adalah saudara, maka jika ada saudara kita yang tertindas dan butuh pertolongan bukankah kita segera menolongnya? Apakah tega membiarkan saudara kita tertindas oleh musuh-musuh Islam?

Maka, pembiaran terhadap penindasan muslim Uighur yang dilakukan oleh negara-negara Muslim merupakan tindakan yang kejam. Karena membiarkan saudara sesama muslim berada dalam kesakitan dan penindasan. Bukankah seharusnya pemerintah negara Muslim segera melakukan pertolongan ketika saudaranya tertindas dan kesakitan?

BACA JUGA :   Menengok Kedekatan Bupati Kery Terhadap Warga Transmigrasi di Kec. Padangguni

Jika pemerintah negara-negara Muslim tidak tegas disebabkan oleh ketergantungannya terhadap negara China, bukankah seharusnya pemerintah negara Muslim segera mundur dan memutuskan hubungannya dengan pemerintah China? Dan seharusnya mereka mengecam dan segera bertindak terhadap penindasan pada muslim Uighur ini. Segera memberi pertolongan kepada muslim Uighur untuk menghentikan penindasan yang dilakukan oleh China. Itu yang seharusnya dilakukan. Bukan justru diam dan hanya mengecam, tanpa melakukan tindakan sama sekali.

Jika negara-negara Muslim tersebut tidak segera dan tidak ingin melepaskan ketergantungannya terhadap China, bukankah itu juga tindakan yang salah? Karena mereka lebih mementingkan urusan dunia, daripada menolong sesama muslim. Apakah negara-negara Muslim terlena, dengan ketergantungannya dengan pemerintah China? Bukankah seharusnya pemerintah Muslim lebih mementingkan agama, ketimbang urusan perekonomian dan sebagainya? Justru, dengan menolong agama Allah, Allah akan memudahkan segala urusannya?

Maka tidak lain dan tidak bukan, seharusnya negeri-negeri Muslim segera menerapkan aturan yang berasal dari Allah SWT. Yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadits. Dengan menerapkan Islam secara keseluruhan, tentu tidak akan ada pengabaikan terhadap sesama Muslim yang tertindas. Tidak hanya muslim Uighur, akan tetapi juga negara Palestina, Rohingnya, Suriah, Yaman, dan berbagai wilayah lainnya yang tertindas.

Seluruh negeri Muslim akan dilindungi dan diselamatkan jika berada dalam sistem Islam, khilafah. Jika khalifah (pemimpin) berada dalam sistem Islam (khilafah), khalifah akan melindungi seluruh warga negaranya, tidak peduli agama dan etnis tertentu. Dan tidak pengabaian dan pembiaran seperti yang dilakukan pemerintah-pemerintah muslim saat ini.

Saatnya, kita berjuang dalam menerapkan syariah dan khilafah dalam sistem Islam di negeri ini. Dan segera membebaskan negara muslim yang tertindas dan penjajahan diatas muka bumi ini. Mari campakkan sistem demokrasi, dan ganti dengan sistem Islam, sesuai dengan manhaj kenabian Rasulullah SAW. Wallahu A’lam (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co