,

 Penjualan Kondom Melonjak, Menjelang Tahun Baru di Kota Kendari

Zuharmi Hamaku

Oleh : Zuharmi Hamaku, S. Si


 

Seperti telah menjadi rutinitas tahunan, penjualan alat kontrasepsi  di akhir tahun meningkat cukup drastis di Kota Kendari dan beberapa kota lain di Indonesia. Seperti yang dilansir di  zonasolutra. com, (31/12/2020) dituturkan bahwa di beberapa apotek di Kota Kendari  laris penjualan alat kontrasepsi berupa kondom, bahkan meningkat dua kali lipat  menjelang  perayaan tahun baru. Para pembeli  berbagai  kalangan  mulai pekerja bahkan termasuk remaja laki-laki dan perempuan.

Pada hari biasa pun, penjualan cukup lumayan  ketika  akhir pekan, seperti malam Jumat dan malam Minggu. Setali tiga uang  dengan  Kabupaten Konawe, kondom dan tissue magic  di sejumlah apotek ludes di borong para pembeli yang berasal dari berbagai kalangan bahkan termasuk remaja putri  (kendaripos.co.id, 01/01/2021.

 

Kecenderungan peningkatan penjualan alat kontrasepsi berupa kondom bukanlah kali pertama, tahun-tahun sebelumnya pun terjadi hal yang sama.  Tingginya penjualan alat kontrasepsi ini patut dicurigai digunakan oleh bukan pasangan suami istri sah dan akan membuka kran seluas-luasnya bagi seks bebas atau free sex, pelacuran,  praktek  aborsi dan peningkatan penderita HIV/ AIDS.

 

 

Maraknya pembelian alat kontrasepsi seperti kondom menjelang tahun baru memicu  perilaku seks bebas semakin meningkat dari tahun ke tahun.   Berdasarkan survei yang dilakukan oeh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kemenkes  Oktober Tahun 2013, menemukan sebanyak 63 % remaja sudah pernah melakukan hubungan seks dengan kekasihnya maupun orang sewaan.

 

Sementara survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017  (dilakukan per 5 tahun) mengungkapkan sekitar 30 % remaja perempuan dan 50 % remaja pria mengaku pernah melakukan hubungan seksual pranikah (promkes.net, 08/09/2018). Sedangkan hasil  Survei Perilaku Berisiko Bagi Kesehatan Reproduksi pada Siswa SMKN  Se Kota Kendari yang melibatkan 357 orang responden yang dilakukan oleh  Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Haluoleo Tahun 2016  menunjukkan sebagian besar responden pernah berpacaran sebanyak 268 orang (75,1 %) dan sebanyak 34 orang (9,5 %) siswa SMKN telah melakukan hubungan seksual pranikah (jimkesmas volume 2 No.8, 01/08/2017).   Angka-angka ini akan terus merangkak naik dari tahun ke tahun apabila tidak diselesaikan secara tuntas. Sungguh miris.

BACA JUGA :   Oknum Pegawai BPBD Mengaku Telah Memasukan Jarinya Ke P4g1n4 Korban

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co