,

Perbedaan Media Zaman Now Vs Media Zaman  Islam

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh : Lia Destia

 

Kabar soal Presiden Jokowi mendapatkan penghargaan Kemerdekaan Pers pada Hari Pers Nasional (HPN) 2019 menjadi satu hal yang hangat diperbincangkan. Penghargaan tersebut didapatkan oleh Jokowi karena dianggap menjamin kebebasan pers serta memiliki kepedulian terhadap perkembangan pers nasional.Dilansir dari www.cnbcindonesia.com(09/02/2019), penghargaan ini diserahkan oleh Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, di acara HPN 2019, pada 9 Februari 2019, di Surabaya, Jawa Timur.

Namun ternyata pemberian penghargaan itu ternyata mendapatkan kritik dari Wakil Ketua DPR Fadli Zon.”Sangat ironis. Ini seharusnya membuat insan pers merasa prihatin,” kata Fadli seperti yang dilansir dari www.merdeka.com(10/02/2019).Menurut Fadli, penghargaan itu tidak pas untuk Jokowi karena ia pernah membuat kebijakan pemberian remisi pada otak pembunuhan wartawan Radar Bali meskipun akhirnya dibatalkan.”Selain itu masih hangat pemberian remisi terhadap otak pembunuhan wartawan Radar Bali yang membuat banyak orang marah. Penghargaan kepada Pak Jokowi itu memang pantas dikritik,” ungkapnya.

Komentar lain datang dari Wakil Sekretaris Departemen Dalam Negeri Partai Demokrat, Abdullah Rasyid yang menilai bahwa pers telah mulai doyong dan hampir roboh.“Pers atau media mainstream lebih menjadi corong penguasa yang mengobral janji-janji dan kebohongan,” ujarnya

Menurutnya di tahun-tahun politik ini berita anti penguasa hampir tidak mendapatkan tempat. Jika dimuat pun sudah berubah lunak bahkan jauh dari realita di lapangan.“Masih segar diingatan kita Reuni 212 Desember 2018 lalu, hampir semua pers mainstream seperti mati rasa dan hilang akal sehat,” kata Rasyid memberi contoh.

Kritikan-kritikan diatasmerupakan contoh dari buruknya netralitas media mainstream yang ada pada sistem saat ini. Berbeda dengan media pada masa  yang mengutamakan kepentingan dakwah Islam untuk melayani ideologi Islam baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat Islami yang kokoh. Sedangkan di luar negeri ia berfungsi untuk menyebarkan Islam baik dalam suasana perang maupun damai dengan tujuan untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam.

BACA JUGA :   Jalan Tol Bahan Kampanye, Masuk Akal?

Pada media massa diartikan dengan alat untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan terang-terangan. Setiap individu berhak untuk menyampaikan sesuatu kepada publik melalui alat-alat tersebut. Hak ini diakui syariah berdasarkan dalil-dalil yang shahih terkait dengan menyampaikan sesuatu secara terbuka dan terang-terangan. Seperti contoh hadits berikut ini

Diriwayatkan dari ‘Ikrimah RA, Khalifah Ali bin Abi Thalib RA telah membakar kaum zindiq. Berita ini sampai kepada Ibnu Abbas RA, maka berkatalah Ibnu Abbas RA :”Kalau aku, niscaya tidak akan membakar mereka karena Nabi SAW telah bersabda,”Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah (api),” dan niscaya aku akan membunuh mereka karena sabda Nabi SAW,’Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR Bukhari no 6524). Hadits ini jelas menunjukkan Ibnu Abbas telah mengkritik Khalifah Ali bin Abi Thalib secara terbuka di muka umum. (ZiyadGhazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al I’lamfi Al Daulah Al Islamiyah, hlm.25).

Hadits diatas menunjukkan bahwa menyampaikan sesuatu kepada publik merupakan hak bagi setiap individu untuk melakukannya secara terang-terangan. Meskipun begitu, hak ini diatur dalam sejumlah kewajiban dan syarat tertentu. Seseorang yang akan mendirikan stasiun TV atau radio wajib untuk memberikan pemberitahuan kepada institusi negara terkait. Bila hak ini disalahgunakan untuk menyebarkan sesuatu yang batil, maka akan yang bertanggung jawab adalah pemimpin redaksi dan wartawan atau penulis artikelnya secara langsung. Mereka tidak diistimewakan, ketika melakukan kesalahan maka harus diadili. Hal ini sangat berbeda dengan wartawan pada sistem demokrasi yang terkadang tak bertanggung jawab dengan dalih kebebasan pers.(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co