Perempuan dan Keluarga Semakin Terpuruk tanpa Islam

Penulis: Zulhilda Nurwuan, S. Pd (Relawan Opini Kendari)


100 tahun sejak runtuhnya daulah islam di Turki oleh Presiden sekuler pertama Turki, Mustafa Kemal Attaturk, perempuan dan keluarga memang selalu menjadi korban pengarusan opini kekejaman rezim sekuler. Tidak hanya di tempat runtuhnya islam pertama kali melainkan merambah hingga ke pelosok negeri-negeri terpencil di seluruh belahan dunia.

Perempuan selalu menjadi sasaran empuk para pegiat sekuleris untuk mencari-cari kesalahan islam. Sebut saja jilbab dan khimar, pakaian yang merupakan kewajiban wanita muslimah ini selalu menjadi sorotan yang tidak luput dari perbincangan bahkan hingga ke ruang internasional. Beberapa negara bahkan melarang penggunaan jilbab dn khimar di neraka mereka. Negara-negara tersebut diantaranya Belanda, Rusia, Jerman, Itali, Tunisia, Belgia, Australia, dan Prancis. Tidak hanya negara bagian Eropa dan negara barat yang lain, negara islam pun sempat menerapkan pelarangan jilbab di negara mereka.

Diskriminasi Jilbab di Dunia Internasional

Dilansir dari Liputan6.com, pemerintah Suriah pernah melarang jilbab pada bulan Juli 2010. Tindakan keras ini diperintahkan oleh pemerintah sekuler di Damaskus di tengah kekhawatiran meningkatnya ekstrimisme Islam di kalangan pelajar Muslim muda. Namun pada tahun 2011, Presiden Suriah Bashar Assad menurunkan tingkat ketegangan dengan memperbolehkan guru untuk memakai niqab. Selain itu, Turki pun pernah menerapkan pelarangan jilbab. Namun, pada tahun 2013 pemerintah Turki mencabut larangan mengenakan jilbab-jilbab Islam tradisional yang meliputi wajah dan rambut di kantor-kantor pemerintahan. Larangan tersebut dicabut untuk mengatasi kekhawatiran bahwa larangan mengenakan jilbab mengecilkan peran perempuan di kantor-kantor pemerintahan. Akan tetapi, burka yang menutupi muka tetap dilarang.

BACA JUGA :   Islam Mendudukan Poligami Sebagai Solusi

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co