Perlukah, Sertifikat Dai!

Ruli Ibadanah Nurfadilah, SP.
Ruli Ibadanah Nurfadilah, SP.

Oleh : Ruli Ibadanah Nurfadilah, SP.


Menteri Agama menyatakan bahwa program dai bersertifikat segera digulirkan dalam waktu dekat. Ia menegaskan program tersebut sudah dibahas oleh Wakil Presiden. (cnn.com 13 Agustus 2020).

Lebih lanjut, Menag menegaskan program tersebut bertujuan untuk mencetak dai yang berdakwah di tengah masyarakat tentang Islam rahmatan lil alamin. Ia pun berharap ke depannya masjid-masjid bisa diisi oleh para dai-dai bersertifikasi dan Masjid bisa diisi para dai untuk mendakwahkan Islam yang damai dan penuh toleran.

Patut dipertanyakan apa kriteria dai yang ‘toleran’ dan tafsir Islam ‘rahmatan lil alamin’, dikarenakan seringkali bias dan justru berpotensi mendistorsi ajaran Islam. Bila yang dimaksud toleran adalah kemudian seruan pada pluralisme dan sinkretisme, maka seruan ini sudah jelas mengarah pada menggerogoti ajaran Islam bahkan merusak keimanan.

Makna Islam rahmatan lil ‘alamin adalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tentu hadirnya Islam sebagai agama yang paripurna akan menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi damai sentosa.

Makna rahmatan lil ‘alamin bukanlah memilah mana syariat yang sesuai bangsa atau tidak. Karena Islam akan hadir menjadi rahmat jika seluruh syariatnya ditegakkan di bumi ini, tanpa kecuali. Inilah yang dinamakan Islam kaffah. Maka jika sistem pemerintahannya tidak berdasar syariah, keberadaannya harus diubah.

Seorang muslim harus terikat sepenuhnya dengan seluruh syariat Allah SWT.  Sehingga makna Islam rahmatan lil ‘alamin yaitu berislam secara kaffah. Bukan berislam sesuai dengan kepentingan penguasa.

Wajar keberadaan program ini disinyalir memiliki motif tersembunyi. Yaitu memberangus ajaran Islam politik. Karena bagaimanapun, para dai yang menyampaikan Islam secara kaffah tak akan membiarkan siapa pun -termasuk penguasa- merusak agama demi kepentingan politik kekuasaannya.

Dai adalah Pilar Pengukuh Kehidupan Islam

Dai adalah orang yang menyampaikan Islam di tengah-tengah umat. Dalam Islam, dai atau pendakwah bukanlah sebuah profesi yang dapat mengantarkan pada keberlimpahan materi. Melainkan akan menghantarkan pelakunya pada keberlimpahan pahala. Karena sesungguhnya aktivitas dakwah adalah kewajiban bagi setiap kaum muslimin.

Mengajarkan ilmu Islam walau satu ayat akan mendatangkan pahala yang begitu besar. Karena akan menjadikannya amal jariah yang tidak akan terputus walau sudah tutup usia. Inilah yang menjadikan dakwah -yaitu mengajak pada kebaikan- sebagai sebaik-baiknya aktivitas manusia

Barang siapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR Muslim no. 1893)

Kedudukan dai atau ulama di hadapan Islam sangat mulia. Predikat terbaik dari ahli ilmu adalah menjadi pewaris Nabi. Ulama adalah guru sekaligus pembimbing dalam mengamalkan ilmu.

Menurut Imam Al-Ghazali, “Guru merupakan Mashlikul Kabir, ia bagaikan matahari yang menyinari bumi, ia bermanfaat bagi dirinya dan juga bagi orang lain, mereka patut disebut sebagai orang yang mulia yaitu berilmu dan beramal serta mengajarkannya.”

Bahkan dalam hadis Nabi yang lain dijelaskan, “Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para syuhada.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Ulama adalah penerus perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu dakwah amar makruf nahi mungkar, mendidik dan mengarahkan umat ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah alasan para ulama disebut waratsatul anbiya’.

Begitulah Islam memberikan tuntunan apa dan bagaimana gambaran ulama, bukan berdasarkan pada penilaian manusia. Harusnya kualifikasi ulama ditetapkan berdasarkan penilaian Allah dan Rasul-Nya, bukan makhluk seperti manusia. Karena penilaian manusia itu relatif, tidak baku, dan sangat mungkin melakukan kesalahan.

Semestinya pula dakwah amar makruf nahi mungkat tidak terbatas ada tidaknya sertifikasi. Apa yang Islam ajarkan memang sudah semestinya disampaikan tanpa dikurangi ataupun ditambahi.

Adapun bila ada dai atau ulama yang mengkritisi kebijakan penguasa, tidak lain karena kewajiban mencegah kemungkaran diperintahkan dalam Islam. Kalaulah kritik atas kezaliman penguasa dibungkam, lantas siapa yang akan meluruskan pemahaman keliru penguasa?

Menjadi penguasa janganlah antikritik. Menutup diri dari tawaran solusi yang diberikan para ulama kritis. Yang jelas, bersertifikat atau tidak, umat Islam tidak boleh diam melihat kemungkaran di hadapannya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lisannya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR Muslim)


error: Hak Cipta dalam Undang-undang