Potret Buram Menuai Masa Depan Suram, Remaja Butuh Islam!

Oleh : Risnawati

(Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah) 

OPINI : Tribunnews.Com, Semarang – Video sekelompok siswa SMK NU 03 Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah, yang tampak tengah menunjukkan sikap tidak sopan kepada gurunya, tengah viral di berbagai media sosial.

Dalam video berdurasi 24 detik itu, para siswa secara beramai-ramai terlihat seperti mengeroyok atau memukuli Guru Gambar Teknik Otomotif mereka, yaitu Joko Susilo, saat di kelas. Saat ditemui Tribunjateng.com, Joko mengungkapkan bahwa hal tersebut hanya merupakan sebuah candaan yang kelewat batas.

“Itu hanya candaan, namun kelewat batas,” ujar Joko Susilo, Senin (12/11/2018).

Joko Susilo mengaku awalnya ada seorang murid yang melempar kertas dan mengenai dirinya, namun saat ditanyai, respon para murid seolah-olah bercanda. Karena terlarut dalam suasana bercanda, murid-murid pun secara tidak sopan malah bersikap seperti mengeroyok dan memukuli sang guru.

“Biasanya juga tidak begitu. Itu hanya sekelompok anak saja, tidak satu kelas atau semua anak begitu. Yang dapat saya sampaikan yaitu tidak ada kekerasan dan pemukulan, tapi memang guyonan (candaan)nya kelewat batas,” sambungnya.

Jika kita menelaah kembali bahwa guru mempunyai peran yang sangat penting dalam proses mencerdaskan bangsa. Sebagaimana tertuang dalam UU No 14 tahun 2005 menjelaskan tentang guru dan dosen adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Sehingga kewajiban seorang gurulah untuk mengarahkan para siswanya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.  Sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Pasal 3 Bahwa tujuan pendidikan nasional adalah “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri…….”

Namun, kenyataannya nasib guru di negeri ini seperti tidak bernilai lagi bagi para siswanya. Inilah sekelumit problem remaja yang semakin memprihatinkan.

BACA JUGA :   Anggota DPRD Ngamuk Saat HUT Konawe Berlangsung

Kapitalisme; Biang Kerok

Kejayaan dan kehancuran suatu bangsa tergantung kepada kualitas generasi yang mengembannya. Hal mendasar yang sangat menentukan kualitas sebuah generasi adalah pemikirannya. Pemikiran yang cemerlang akan mengantarkan suatu bangsa untuk mencapai keunggulan dan kejayaan, dapat memimpin umat manusia dan mensejahterakan kehidupan dunia.

Sebagai agama yang paripurna, Islam sangat concern dengan pembangunan generasi berkualitas yang memiliki pemikiran yang prima. Islam telah menempatkan orang-orang yang memang memiliki ilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi, sebagaimana firman Allah SWT , “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.

dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Pemikiran yang cemerlang tentunya merupakan produk sistem pendidikan generasi yang tepat yang mampu melahirkan generasi yang berkualitas, unggul dalam berbagai aspek kehidupan, tidak seperti potret buram generasi kita saat ini.

Oleh karena itu, untuk mencapai suatu kejayaan bagi anak bangsa muslim terbesar di dunia ini, perlu kita kenali realitas generasi ini, akar masalahnya, lalu memberikan solusinya dengan sistem pendidikan Islam yang telah terbukti nyata melahirkan generasi nomor satu di dunia yang belum pernah tertandingi keunggulan kualitasnya oleh generasi anak manusia sepanjang sejarah.

Sungguh disayangkan, tanpa mengabaikan beberapa keberhasilan dunia pendidikan, ternyata kita lebih banyak dihadapkan pada potret buram produk pendidikan generasi hari ini baik dilingkungan keluarga, masyarakat maupun negara yang lebih banyak menghasilkan generasi narkoba, tawuran, pergaulan bebas dan lain-lain.

Fakta diatas menunjukkan betapa sistem yang ada sekarang cenderung sangat lemah dalam mengentaskan permasalahan kenakalan remaja.

Adapun tawuran yang hampir setiap hari selalu terjadi ternyata tidak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta tetapi juga di daerah-daerah, hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat yang menyebabkan tawuran mudah tersulut.

BACA JUGA :   Partai Berkarya Akan Revitalisasi Posyandu

Fenomena lain yang tak kalah menyedihkan adalah adanya minat yang tinggi di kalangan generasi muda terhadap kehidupan non-science seperti asyik mencari kekuatan ghaib, belajar ilmu sihir/hitam, mencari jawaban dari Paranormal, percaya dengan ramalan bintang, atau pergi ke tempat-tempat angker menyelami black magic dan mempercayai mistik.

Hal ini diperparah limbah budaya barat berbentuk sensate culture yaitu budaya yang bertalian dengan sikap hedonistik dengan orientasi gaya hidup hura-hura, gaya hidup konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistik, kebebasan yang salah arah yang lepas dari kendali aturan agama dengan tampilan generasi yang permissif dan anarkis.

Itulah sekilas potret buram generasi kita yang tidak lain adalah buah dari sistem pendidikan Kapitalis-sekularistik yang berlangsung saat ini.

Islam Membangun Generasi Berkualitas

Islam merupakan agama yang tidak saja mengatur kehidupan ritual, tetapi juga seluruh aspek kehidupan umat manusia di dunia. Kesempurnaan Islam ini telah terbukti mampu mengubah generasi yang tadinya ummi (buta huruf) dan jahiliyah (bodoh/rusak) menjadi sebuah generasi utama dan dan pelopor kemajuan kehidupan.

Bahkan mampu membangun sebuah peradaban manusia manusia yang khas, yang menyinari hampir seluruh bangsa di dunia dan kejayaanya bertahan lebih dari sepuluh abad.

Faktor paling menentukan kualitas generasi Islam adalah keimanan dan keilmuannya. Oleh karena itu, dalam sistem pendididikan generasi menurut Islam, tidak dikenal adanya dikotomi pendidikan seperti yang lazim terjadi dalam sistem hidup sekuler. Pendidikan generasi dalam pandangan Islam tidak hanya ditargetkan untuk mencapai ketinggian teknologi dan ilmu pengetahuan semata.

Target utama pendidikan generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, lalu dengan dorongan keimanan tersebutlah teknologi dan ilmu pengetahuan dikaji, dikuasai dan dikembangkan. Artinya, keimanan menjadi dasar bagi keilmuan seseorang.

Gambaran generasi berkualitas dalam pandangan Islam adalah sebagai berikut :

BACA JUGA :   Istri Kery Soroti Kinerja Dinsos & Dinkes Konawe

Pertama, generasi yang berkepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) : adalah generasi yang memiliki keimanan kuat terhadap Islam (aqidah Islamiyah), dan bertekad menjadikan aqidah Islam tersebut sebagai landasan dan standar satu-satunya dalam pola berpikir (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiah).

Semua aktivitas dan problem dalam kehidupan, baik di keluarga, masyarakat maupun negara ditata dan diselesaikan berdasarkan petunjuk Syari’at Islam. Oleh karena itu, penanaman pemahaman yang utuh dan kokoh terhadap aqidah Islam menjadi penentu utama terbentuknya generasi berkualitas.

Kedua, generasi yang berjiwa pemimpin. Islam datang dengan membawa seperangkat aturan yang sempurna yang menjamin terselesaikannya seluruh problematika kehidupan manusia sampai akhir zaman. Generasi yang berjiwa pemimpin tampak dari tanggung jawabnya terhadap segala aktivitas dalam kehidupannya.

Pemahaman Islam yang mengkristal pada dirinya mendorong untuk siap bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Baik pemimpin bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, bahkan umat seluruh dunia. Mereka mengerti betul bahwa hidupnya sarat dengan amanah, dan kelak harus dipertanggung jawabkan kepada Sang Khalik, Allah SWT.

Ketiga, mampu mengarungi hidup berdasarkan aqidah Islam. Aqidah Islam menjawab semua pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu dari mana manusia ? Untuk apa manusia hidup di dunia ? dan akan kemana manusia sesudah meninggalkan dunia ini ? Islam memberikan tuntunan yang sempurna, yang mampu menyelesaikan seluruh problematika hidup manusia di dunia.

Dengan pemahaman hidup yang benar dan sikap hidup totalitas sesuai dengan petunjuk syariah Islam, generasi para sahabat, generasi pertama umat ini, telah mampu mengungguli peradaban dua negara adikuasa waktu itu, yaitu Persia dan Romawi.

Mereka melengserkan kedaulatan kerajaa Kisra Persia dan memukul mundur kekuataan Romawi hingga ke Konstantinopel. Dan menyatukan berbagai bangsa dibawah panji Islam. Ini adalah bukti nyata keberhasilan pendidikan Islam yang membangun generasi berkualitas dalam Naungan Khilafah ‘ala minhaji an-Nubuwwah. Wallahu a’lam.(***)


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co