Potret Kemiskinan di Bumi Anoa, Butuh Perhatian Penguasa

Ulfa
Ulfa

Oleh: Ulfah Sari Sakti,S.Pi

(Jurnalis Muslimah Kendari)


Kaget sekaligus miris ketika mendengar ada kakek tinggal sebatangkara dalam gua, selama 10 tahun, tepatnya di Kecamatan Kokalukuna, Kota Bau-bau. Yang terbersit di pikiran kita, apakah sang kakek tidak memiliki sanak keluarga dan apakah tidak ada waga sekitar yang mengetahui keberadaan sang kakek di gua tersebut, serta bagaimana fungsi perangkat pemerintah setempat dalam memantau kondisi masyarakatnya.  Andai saja saat ini kita berada dalam sistem pemerintahan Islam, tentunya tidak akan ada Kakek La Udu lainnya.

La Udu (55 tahun) warga kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara (Sultra) hidup seorang  diri di dalam sebuah gua di bibir pantai selama 10 tahun.  Kakek Udu tidak memiliki rumah dan enggan menumpang di rumah keluarganya.

Lokasi gua berada di lubang tebing itu masuk wilayah administratif Kecamatan Kokalukuna, Kota Bau-bau.  Gua itu sendiri terbilang kecil.  Bahkan terbilang sempit untuk satu orang.  Dia bertahan hidup seorang diri, jauh dari pantau pemerintah setempat.

Agat tetap bertahan hidup, sehari-hari kakek tua ini hanya makan tumbuhan liar di sekitar tempat tinggalnya.  Dedaunan pisang atau beberapa tanaman umbi-umbian, cukup untuk mengganjal perut.  Kalau urusan minum, kakek renta mengambil air dari sela-sela batu, tidak jauh dari gua.  Jika stok air menipis saat musim kemarau, ia akan masuk ke perkampungan utuk mengambil air.

La Udu juga bertahan hidup dari hasil tangkap ikan di laut.  Jika dalam sehari rezeki pancingan dianggap berlebih untuk kebutuhan makan, ia akan ke perkampungan untuk menukarnya dengan beras.  Begitulah kakek 55 tahun itu bertahan hidup.  “Kalau ada rumah saya tidak mau tinggal disini,” ujar La Udu.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co