Potret Kemiskinan Di Kendari, Kapitalis Tak Punya Solusi


Oleh : Asma’ul Chusnah

(Komunitas Peduli Umat)


KENDARI, TELISIK.ID – Pagi ini, Minggu (9/8/2020), seperti hari-hari kemarin, Mira (38) mengais botol plastik bekas di bak sampah di seputaran Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara.

Mendorong gerobak, empat orang anaknya ikut besertanya. Mira dan anak-anaknya sudah terbiasa menghabiskan waktu di jalanan. Bahkan makan pun mereka lakukan di jalan. Semua itu dilakukan, karena hanya dengan cara itu Mira bisa mendapatkan uang untuk menghidupi anak-anaknya. Warga Nanga-nanga, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari ini, menyusuri bak-bak sampah di Kota Kendari demi sesuap nasi dan demi biaya sekolah anak-anaknya.

Ditengah wabah pandemi yang belum ada titik penyelesaian, ditambah lagi himpitan ekonomi yang serba kurang. Yah sungguh miris di Negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi ini masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang belum sejahtera. Bahkan dengan adanya Pandemi covid-19 angka kemiskinan semakin melunjak.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan per Maret 2020 mengalami kenaikan menjadi 26,42 juta orang. Dengan posisi ini, persentase penduduk miskin per Maret 2020 juga ikut naik menjadi 9,78 persen. Dibanding Maret 2019 peningkatannya mencapai 1,28 juta orang dari sebelumnya 25,14 juta orang. Persentase penduduk miskin juga naik 0,37 persen poin dari Maret 2019 yang hanya 9,41 persen.(Tirto.id).

Masalah kemiskinan adalah masalah yang menyita perhatian penduduk di Negeri. Namun di Indonesia sendiri masalah kemiskinan bagaikan sebuah penyakit yang entah kapan akan mulai menunjukkan penyembuhan. Ini membuktikan kegagalan sistem kapitalisme dalam menjamin kesejahteraan masyarakat, penyebab utama kegagalan tersebut adalah akibat sistem ekonomi kapitalisme dibangun di atas prinsip selfishness, yaitu mengutamakan kepentingan individu melalui sistem kompetisi dan persaingan yang cenderung tidak sehat.

Dalam sistem kapitalisme saat ini seolah negara lepas tanggung jawab akan kebutuhan pokok masyarakat. Yang mana masyarakat harus menanggung beban hidup masing-masing. Padahal persoalan urusan kebutuhan pokok masyarakat adalah menjadi tanggung jawab Pemimpin. Hal tersebut melihatkan bahwa pemimpin telah lalai dalam menangani urusan umat, kelalaian pemimpin ini membuktikan bahwa adanya kecacatan dalam kepemimpinannya. Seharusnya umat sadar bahwa hal ini membutuhkan perubahan yang mendasar .

Berbeda dengan Islam. Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan dari bangun tidur hingga tidur Lagi, Hingga cara mengelolah Negara.  Karena agama Islam datang dari sang pencipta hingga sesuai dengan fitrah manusia. Dalam islam kepemimpinan adalah sebuah amanah dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Dan pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang tidak menhghianati rakyat yang telah memilih dirinya, tetapi yang lebih penting adalah tidak menghianati Allah dan Rasull-Nya. Sebagaimana di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta jangan mengkhianati amanah-amanah kalian, sementara kalian tahu (TQS al-Anfal [8]: 27).”

Ketika Islam tegak di Bumi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat hingga menjadi catatan gemilang. Seperti pada masa kepemimpinan Umar Bin Khattab yang dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Sebagai seorang pemimpin Umar Bin Khattab selalu merasakan apa yang dialami oleh rakyatnya, ia selalu mendengarkan segala keluhan dan protes rakyatnya, bahkan dalam banyak kondisi ia lebih mementingkan rakyatnya daripada dirinya sendiri. Pada masa kepemimpinan umar ini Muadz mengirimkan separuh hasil zakat yang dipungutnya di Yaman kepada Umar, tetapi umar mengembalikannya. Dan Muadz berkata “Aku tidak menjumpai seorang pun yang berhak menerima bagian zakat yang aku pungut”. Ini adalah bukti keberhasilan Umar dalam memerintah khusunya dalam bidang Ekonomi.

Sudah saatnya kita campakkan hukum kapitalisme buatan manusia yang serba terbatas dan telah nampak berbagai kerusakannnya. Dan sudah saatnya kita menerapkan hukum Islam secara Kaffah. Karena hanya hukum Islamlah yang mampu mencegah timbulnya masalah kemiskinan dan ketimpangan Ekonomi, dan kesejahteraan akan terwujud. Wallahu’alam bisshawan.

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang