, ,

Predator Anak Mengintai. Negara Perlu Waspada

Oleh : Mariana, S.Sos

( Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)

OPINI : Seorang pemuda berinisial YA (30), di Kelurahan Ngapaaha, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe selatan ( Konsel), Sulawesi Tenggara(Sultra), diringkus aparat setelah pemerkosa seorang anak yang masih dibawah umur. Kapolsek tinanggea, IPTU Muchsin,mengatakan peristiwa pemerkosaan itu berawal ketika pelaku berpura-pura menanyakan sebuah alamat kepada korban. Saat itu, korban sedang berjalan kaki pada pukul 06.00 WITA saat menuju ke sekolahnya di salah satu SMP di Kecamatan Tinanggea.

Tanpa curiga, korban naik motor pelaku dan menuju ke alamat tersebut. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba pelaku membawa korban kesebuah perkebunan sepi. Pada saat itulah, korban diturunkan dari motor dan diancam jika tidak mau memenuhi permintaannyaakan dibunuh. Setelah itu pelaku langsung memperkosa korban,”jelas Muchlis kepada SultraKini.Com, Jumat (12/10/2018).

Sekularisme liberalis akar persoalan maraknya predator anak

Istilah sekularisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1846 oleh George Jacub Holyoake yang menyatakan bahwa schularism is an ethical system pounded on the principle of natural morality and in independent of reveald religion or supernaturalism. (sekularisme adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dan terlepas dari agama-wahyu atau supernaturalisme).

Sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1953) adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashl ad-dîn ‘an al-hayâh). Sekularisme menjadi asas bagi liberalisme yang diwujudkan dalam hak asasi manusia (HAM), berupa kebebasan berperilaku (freedom of behavior) dan berpendapat (freedom of speech).

Paham sekular telah mengkerdilkan peranan agama dalam kencah kehidupan, sehingga nilai moral dan akhlak hampir tak bernilai. Efeknya adalah apapun yang menyenangkan maka itu sah dilakukan meskipun melanggar etika kebenaran, puncaknya adalah pemusaan syahwat yang tak terkendali dan tanpa pengaturan.

Selain itu paham sekuler juga memunculkan paham liberal alias  kebabasan yang berujung pada hedonisme atau  kesenangan. Sekularisme yang melahirkan liberalisme dan hedonisme telah membuat syahwat seseorang menjadi liar dan tanpa kendali sehingga pemuasaannya disalurkan pada sarana apapun bahkan anak kecil pun menjadi korban kekejaman dan kebejatan manusia tak berkelas yang akalnya telah tersimpan dalam tempurung nafsunya.

BACA JUGA :   Hasil Hitung Cepat Pilkada Kolaka Timur, Pasangan SBM - Andi Merya Nur Ungguli Petahana 51 Persen

Sayangnya, kebejatan moral para predator seringkali justru tanpa sadar difasilitasi dalam sistem kapitalistik sekuler yang orientasi dan tujuan tertingginya adalah uang, media-media hasil dari teknologi modern telah membuka ruang bagi para predator untuk memelihara nafsu bejatnya lewat serangkaian tayangan yang menyajikan pornografi dan pornoaksi. Pada akhirnya para predator semakin terstimulus untuk melakukan aksi bejatnya karena melihat tayangan yang di tonton.

Sesungguhnya Ideologi Liberal Sekuler, nyata-nyata merusak generasi dan menyuburkan kejahatan, maka sudah selayaknya ruang bagi suburnya ideologi ini dihilangkan dan dihentikan, salah satu ruang Penyebaran dari Liberal Sekuler adalah melalui produk yang mereka buat, salah satunya adalah teknologi dan produk media.

Artinya teknologi bukanlah sesuatu yang seutuhnya tidak benar, kita juga tidak dapat menolak kemajuan teknologi tetapi sudah seharusnya kemajuan teknologi semisal internet dapat memberikan kemajuan peradapan manusia bukannya malah kemunduran seperti dalam dunia hewani, maka tugas negaralah melakukan filter bagi masuk, tumbuh dan berkembangnya arus teknologi dalam Negara, konten-konten dan tayangan-tayangan yang tidak layak dan berpotensi merusak akal maka harus di larang dan siapapun yang berusaha untuk menyebarkan maka harus di tindak tegas oleh Negara, sebab memang tugas Negara adalah melindungi rakyatnya dari pengaruh buruk yang dapat menghancurkan potensi berfikirnya.

Berikutnya Negara melakukan edukasi pada rakyatnya agar dapat memiliki kepribadian yang baik dari aspek pola pikir dan pola sikap sehingga berguna bagi negaranya.

Jika predator anak dibiarkan bebas berkeliaran dan tak ada upaya tegas untuk mengatasi dan mencagahnya maka bukan tidak mungkin akan terus berjatuhan korban, dan efek bagi anak yang telah dimangsa tentu sangat dalam, mulai dari depresi, gangguan stress pasca trauma, kegelisahan, gangguan makan, rasa rendah diri yang buruk, kekacauan kepribadian,dll.

Bahkan efek jangka panjangnya adalah suburnya aksi kriminalitas sebab anak yang dilecehkan sewaktu kecil bukan tidak mungkin akan melakukan hal yang sama ketika dewasa sebagaimana ungkapan Ihsan Gumilar, peneliti dan dosen Psikologi Pengambilan Keputusan menjelaskan, yaitu  berawal dari korban (abused) pelecehan semasa kecil, lalu tumbuh dewasa jadi orang yang memakan korban (abuser). Orang yang jadi korban pelecehan seksual saat kecil, saat dewasa akan berpikir melampiaskan seks dapat dilakukan pada anak kecil. Belum lagi penyakit menular seksual yang bisa menjangkiti dan lain-lain.

BACA JUGA :   Majelis Nasional KAHMI Dukung Komnas HAM Bentuk TPF Terbunuhnya 6 Pengikut Habib Rizieq

Negara wajib melindungi rakyatnya

Secara rinci, tanggung jawab negara dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual adalah sebagai berikut : Dalam masalah ekonomi, Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya. Dengan jaminan seperti ini, para ibu tidak perlu bekerja sehingga bisa berkonsentrasi menjalankan tugas utamanya mendidik, memantau dan menjaga anak-anaknya. Negara wajib menjaga suasana taqwa terus hidup di tengah masyarakat. Pembinaan dilakukan baik di sekolah, di masjid, dan di lingkungan perumahan.

Negara mengatur mekanisme peredaran informasi di tengah masyarakat. Media massa di dalam negeri bebas menyebarkan berita. Tetapi mereka terikat dengan kewajiban untuk memberikan pendidikan bagi umat, menjaga aqidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Bila ada yang melanggar ketentuan ini, negara akan menjatuhkan sanksi kepada penanggung jawab media. Negara mengatur kurikulum sekolah yang bertujuan membentuk kepribadian Islam bagi para siswa. Kurikulum ini berlaku untuk seluruh sekolah yang ada di dalam negara, termasuk sekolah swasta.

Negara membuat aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat berdasarkan hukum-hukum syara’.Laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menutup aurat, menahan pandangan, menjauhi ikhtilat (interaksi laki-laki dan perempuan) yang diharamkan, dan seterusnya. Dengan metode ini, aurat tidak dipertontonkan dan seks tidak diumbar sembarangan. Terbiasanya orang melihat aurat perempuan dan melakukan seks bebas, akan membuat sebagian orang kehilangan hasrat seksnya dan mereka membutuhkan sesuatu yang lain untuk membangkitkannya. Muncullah kemudian penyimpangan seksual seperti pedofilia, homo dan lesbi.

Inilah yang dihindarkan dengan penerapan aturan pergaulan sosial dalam Islam. Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para penganiaya dan pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Pemerkosa dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila sudah menikah. Penyodomi dibunuh. Termasuk juga melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai denda 1/3 dari 100 ekor unta, atau sekitar 750 juta rupiah, selain hukuman zina (Abdurrahman Al Maliki, 1990, hal 214-238). Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang akan melakukan kekerasan seksual terhadap anak akan berpikir beribu kali sebelum melakukan tindakan.

BACA JUGA :   Sikap Tanggap Pemerintah dalam penanganan Covid - 19

Anak-anak yang menjadi korban sodomi akan direhabilitasi dan ditangani secara khusus untuk menghilangkan trauma dan menjauhkan mereka dari kemungkinan menjadi pelaku pedofilia baru nantinya. Negara mencegah masuknya isme dan budaya yang bertentangan dengan Islam atau membahayakan kehidupan masyarakat seperti liberalism, sekulerisme, homoseksualisme dan sejenisnya dari saluran mana pun.

Media massa, buku, bahkan orang asing yang masuk sebagai turis atau pedagang dilarang membawa atau meyebarkan hal tersebut. Bila mereka melanggar, dikenakan sanksi berdasarkan hukum Islam. Dan yang mampu menjalankan fungsi dan tanggung jawab seperti di atas, tidak lain hanyalah negara yang menerapkan sistem Islam secara utuh.

Save the family, selamatkan keluarga dari pemangsa anak, jangan biarkan semakin banyak korban yang berjatuhan, kita adalah makhluk yang berkelas yang paham akan arti benar dan salah, maka bertahan dengan sistem kapitalis sekuler adalah tindakan bodoh yang keterlaluan, karena itu segera ambil islam sebagai solusi menyeluruh bagi indahnya peradapan manusia sebab hanya dengan islam martabat manusia akan ditempatkan sesuai dengan kelas dan posisinya sebab islam  adalah konsep hidup yang di buat oleh Rabb pencipta Alam semesta, manusia dan hidup. Wallahu a’lam(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co