Problematika Perempuan di Alam Demokrasi butuh Solusi

Penulis : Irayanti S.AB (Relawan Media)
Penulis : Irayanti S.AB (Relawan Media)

Oleh : Irayanti S.AB (Aktivis Muslimah)


 

“Tiada demokrasi tanpa perempuan.”

Begitulah “mantra” yang digaungkan oleh beberapa kalangan. Kalimat tersebut bisa mengilustrasikan betapa pentingnya peran perempuan dalam demokrasi. Kuantitas perempuan yang semakin mengalahkan kaum adam pun dijadikan patokan untuk menjadikan perempuan memperbaiki demokrasi dan perekonomian negeri. Sayangnya, selama berada di alam demokrasi, perempuan malah tiada berdaya. Aturan demokrasi banyak melahirkan problem baru bagi kaum hawa.

 

Kaum Hawa Diperdaya

Dirilis dari Kompas.com (20/12/2020) dalam acara virtual Girls Leadership Class, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan banyak negara di dunia termasuk negara Indonesia hingga saat ini masih mendudukan perempuan di posisi yang tidak jelas. Berdasarkan hasil studi Bank Dunia, ada lebih dari 150 negara memiliki aturan yang justru membuat hidup perempuan menjadi lebih susah. Baik dari sisi norma nilai-nilai kebiasaan budaya serta paling sering agama.

 

Alhasil menurut Sri Mulyani, perjuangan untuk mempertahankan dan mewujudkan kesetaraan gender harus dilakukan. Beberapa studi menunjukkan apabila memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan dan laki-laki, maka  akan mendapatkan keuntungan dalam perekonomian.

 

Mempromosikan kesetaraan gender menjadi bagian utama dari strategi pembangunan perekonomian negeri dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat baik perempuan maupun laki-laki untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidupnya.

 

Memberdayakan peran perempuan terkhusus di sektor perekonomian, disinyalir bakal menjadi solusi untuk mengurai problematika kemiskinan dan berbagai problem perempuan.

 

Demokrasi-Kapitalisme itu Jahat

Sejak kaum feminisme mencanangkan BPFA, mereka ttak kenal lelah mendagangkan ide kesetaraan gender yang merupakan Racun berbalut Madu. Atas nama kebebasan dan kesetaraan perempuan demi ilusi “mengangkat derajat dan martabat perempuan”, justru kondisi kaum perempuan dan generasi di dunia mengalami persoalan yang sangat kompleks seperti kemiskinan, ketertindasan, penghinaan, pelecehan seksual,diskriminasi serta penganiayaan.

BACA JUGA :   Gaya Hidup Hedonis Picu Kekerasan Seksual Meningkat

 

Kaum feminisme ini hanyalah tong kosong nyaring bunyinya. Mereka nyaring menyuarakan agar tidak ada lagi penganiayaan terhadap perempuan namun ketika korbannya adalah seorang muslimah (perempuan Islam) mereka diam seribu bahasa.

 

Tingginya jumlah perempuan bekerja di Indonesia juga secara fakta tidak membuat problematika kemiskinan di negeri ini tuntas. Angka kemiskinan tetap meninggi dan memprihatinkan. Hal ini akibat distribusi kekayaan dan sumber daya yang buruk serta monopoli kekayaan yang hanya bergulir di tangan segelintir elit baik di dalam negara maupun secara internasional.

 

Selain itu, peran strategis seorang ibu sebagai pendidik generasi terlupakan akibat ibu yang bekerja. Problematika dan kenakalan remaja ikut meningkat seperti seks bebas, pecandu narkoba, kecanduan pornografi, prostitusi serta remaja dengan gangguan kejiwaan serta masih banyak problem cabang akibat ide kesetaraan gender ini.

 

Ide kesetaraan gender yang dianggap sebagai nilai universal yang harus dirangkul oleh semua orang terlepas dari keyakinan budaya ataupun agama mereka. Padahal, konsep ini dilahirkan oleh Barat yang berlandaskan sekuler-liberal.

 

Konon, ide gender ini akan memanusiakan perempuan serta menyeratakan kaum hawa dengan lelaki dalam segala aspek kehidupan termasuk perekonomian. Ketahuilah ia sesungguhnya hanyalah kedok memuluskan pemahaman Barat yakni sekulerisme liberal di tengah umat muslim. Serta sebagai topeng untuk mengonfirmasi gagalnya demokrasi dan sistem kapitalisme dalam mengurusi perempuan dan umat pada umumnya.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co