Racun Toleransi Ancam Negeri

Oleh Fitriani S.Pd

Di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, budaya Natal kian marak saja. Ketika sudah memasuki akhir tahun, tepatnya pada tanggal 25 Desember, suasana perayaan Natal mendominasi siaran-siaran televisi dan pusat-pusat perbelanjaan negeri. Seperti pramuniaga yang menggunakan atribut Natal (menggunakan topi Sinterklas), juga pohon Natal yang dihiasi lampu warna-warni menyambut pengunjung. Semua pemandangan ini hampir mirip dengan perayaan hari Raya Idul Fitri.

Pelan tapi pasti, kaum Muslim setiap tahunnya selalu dicekoki budaya Natal dan tahun baru. Anak-anak Muslim mulai ada yang pandai meniup trompet. Orang tua mereka pun membelikan mereka topi Sinterklas. Bahkan kian hari, atribut ini seolah tak tabu lagi untuk dikenakan.Dijual bebas dimana-mana.

Tidak hanya itu saja. Para pejabat mulai dari level pusat hingga daerah pun tak ketinggalan ikut mengucapkan selamat Natal dan hadir di perayaan Natal bersama. Seperti dilansir dari Detik.com, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin telahmengucapkan selamat merayakan Natal kepada umat Kristiani.

“Selamat Merayakan Natal dan Menyambut Tahun Baru 2019. Semoga kita semua terus berkemampuan menebarkan kedamaian, kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun,” kata Lukman dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (24/12/2018).

Dari situs yang berbeda, calon Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin juga mengakui telah mengucapkan selamat Natal untuk umat Kristiani.

“Saya sendiri mengucapkan, tak masalah,” kata Kiai Ma’ruf dalam wawancara dengan Rosiana Silalahi Kompas TV belum lama ini. (Eramuslim.com,25/12/2018)

Adapun dalih yang digunakan ialah bahwa apa yang dilakukan itu adalah bentuk toleransi. Mengucapkan Selamat Natal itu masalah kelahiran seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. Bahkan ada yang berpendapat bahwa bukankah setiap Idul Fitri kaum Kristen juga memberikan selamat Idul Fitri kepada Muslim. Apalagi negeri ini menganut Islam nusantara dan menjunjung tinggi toleransi kepada agama lain, walaupun terkadang intoleran terhadap saudara seakidah sendiri.Walhasil, makna toleransi lama-kelamaan terkikis dan menjadi salah kaprah.

BACA JUGA :   Ketua DPRD Konsel Pimpin RDP Sengketa Lahan Empat Desa

Padahal, seharusnya, yang dimaksud toleransi adalah membiarkan orang lain melaksanakan ajaran agamanya. Namun justru yang terjadi sekarang malah ikut merayakannya. Sehingga dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa tanpa terasa praktik pluralisme dan sinkretisme telah terjadi. Inilah racun toleransi yang mengancam negeri ini.

 Bagaimana tidak, kaum Muslim di negeri ini mulai bisa menerima ajaran atau ritual Kristen. Mulai maklum dengan ajaran Trinitas yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ide pluralisme inilah yang sedikit demi sedikit melemahkan akidah umat Islam. Sehingga, lama-kelamaan kaum Muslim bisa menerima keberadaan kaum Kristen setara dengan Islam. Khusus dalam konteks Natal, umat Muslim didorong untuk menerima kebenaran ajaran Kristen, termaksud menerima paham trinitas dan ketuhanan Yesus.

Belum lagi propaganda sinkretisme, yaitu mencampuradukkan ajaran agama menjadi satu. Mengompromikan hal-hal yang bertentangan. Spirit sinkretisme tampak dalam seruan berpartisipasi merayakan Natal dan Tahun Baru, termasuk mengucapkan selamat Natal. Padahal, dalam Islam batasan iman dan kafir, batasan halal dan haram adalah sangat jelas. Namun sayangnya dalam kondisi seperti ini, pemerintah bukannya menjaga akidah umat Islam. Mereka justru memberi contoh yang tidak baik dengan ikut-ikutan merayakan dan memberi ucapan selamat Natal.

Mengikis Akidah

Munculnya budaya Natal ini seolah biasa saja. Sekadar begitu saja. Demikian kata sebagian orang. Padahal, dibalik itu ada misi-misi berbahaya. Ikut-ikutan merayakan Natal dan Tahun Baru bisa mengikis akidah. Mengapa? Sebabnya, perayaan Natal bukan sekadar perayaan Nabi Isa sebagai seorang manusia biasa, tapi itu adalah perayaan Nabi Isa sebagai Tuhan Yesus. Memberi ucapan selamat pun bisa dimaknai sebagai pengakuan atas ketuhanan Yesus, yang telah jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Islam mengharamkan mengikuti budaya Natal ini, apapun bentuknya. Aturannya sangat jelas dan tegas. Islam memiliki standar sendiri bagaimana hidup bersosialisasi dengan agama lain dan ini sudah dipraktikkan secara nyata selama berabad-abad lamanya, dan non Muslim selama itu merasakan bagaimana indahnya hidup dalam naungan Islam.

BACA JUGA :   Wabup Kolut Abbas, Tinjau Pembangunan Irigasi

Adapun dalilnya ialah firman Allah SWT dalam Qur’an surah Al-Furqon ayat 72 yang artinya,
“Ciri-ciri hamba Allah adalah tidak menghadiri atau mempersaksikan kedustaan atau kepalsuan”.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co