Resesi Ekonomi, Butuh Jurus Jitu  

Penulis : Hasriati,S.Pi Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara
Penulis : Hasriati,S.Pi Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara

OPINI : Indonesia resmi terjerat resesi ekonomi.  Setelah pertumbuhan ekonomi dalam kuartalan (tiga bulanan) berturut-turut mengalami kontraksi, sebagai tanda terjadi resesi secara teknikal.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 pada kuartal II  minus 5,32 persen.  Pertumbuhan ekonomi yang terendah sejak kuartal I 1999. Ketika itu ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 6,13 persen.  Kemudian baru saja Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers rilis, Kamis 5 November 2020 menyatakan petumbuhan ekonomi kuartal III pun mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen.  Akhirnya resesi ekonomi tak terelakkan.

Indikator ekonomi makro pembentuk pertumbuhan ekonomi, jauh dari yang diharapkan.  Komsumsi rumah tangga jelas-jelas  menjadi kontributor paling tinggi terhadap kontraksi.  Dalam berita resminya BPS mencatat sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan 2 dan 3 tahun 2020, komsumsi rumah tangga adalah sumber kontraksi terdalam, secara berturut-turut sebesar -2,96 persen dan -2,17 persen.  Padahal, berdasarkan pengeluaran, komsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB. Pada triwulan 3-2020,  88,43 persen PDB berasal dari komsumsi rumah tangga dan investasi.

BACA JUGA :   Guncangan Isu Radikalisme di Ponpes Muna, Menyesatkan Ajaran Islam

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co