Revolusi Industri 4.0, Peluang Atau Ancaman?

Oleh : Satriani

(Mahasiswi Fak. Hukum USN Kolaka)

Perguruan tinggi baru saja menyepakati tugas baru dari pemerintah yaitu, merombak kurikulum perkuliahan demi revolusi industri. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia menjadi kekuatan baru di dunia dalam merespon perubahan teknologi yang semakin pesat.

Dilansir dalam Sultrakini.Com.Kolaka – Sebanyak 2.052 mahasiswa baru (Maba) Universitas Sembilanbelas November Kolaka mengikuti kegiatan pembentukan insan Akademis (pena) di Gedung Islamic Center Kolaka, Kamis (30/8/2028). Kegiatan bertema Restrukturisasi karakter mahasiswa yang memiliki jiwa nasionalisme dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0,langsung di buka rektor USN Kolaka.

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan super computer robot pintar, kendaraan tanpa mengemudi editing genetic hingga perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak (Klaus schwab,founder dan executive chairman of the world economic forum).

Teknologi canggih tersebut termasuk kecerdasan buatan,perdagangan elektrolik,data raksasa teknologi finansial ,ekonomi berbagi hingga penggunaan robot.istilah industry 4.0 pertama kali diperkenalkan pada Hannover Fair 2011 yang ditandai dengan revolusi digital.

Mengenal Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri 4.0 memfokuskan 4 hal kepada kebijakan perguruan tinggi yaitu, pertama, paradigm Tri Darma Perguruan Tinggi harus diselaraskan dengan era industry 4.0. kedua, reorientasi kurikulum untuk mencakup literasi baru seperti big data, teknologi atau coding dan humanities.

Selain itu kegiatan ektrakurikuler berupa pengembangan kepemimpinan dan bekerja tim, kewirausahaan dan magang juga diwajibkan. Ketiga, perguruan tinggi harus menerapkan sistem pembelajaran hybrid/blended learning online. Dan keemapat, Hibah dan bimbingan teknis untuk reorientasi kurikulum juga harus berperan. (Makassar.sindonews.com). Kefokusan revolusi industri 4.0 tersebut memaksakan kehendak tanpa meninjau kembali kondisi dunia pendidikaan saat ini.

Parahnya lagi, mahasiswa local akan sibuk bersaing dengan mahasiswa interasionalkarena Presiden Jokowi telah menyampaikan akan membuka cabangUniversitas asing agar Perguruan Tinggi Indonesia lebih kompetitif. (cnnindonesia.com).

BACA JUGA :   Wabup Konawe, Jadi Pahlawan Tersangka Ridwan Lamaroa

Celakanya, kebanyakan intelektual merasa wah dengan kebijakan baru tersebut. Padahal, jika kita mau mencermati lebih dalam, kebijakan ini justru mempunyai peluang besar untuk mengeksploitasi jutaan calon sarjana. Pasalnya, tabiat ilmuwan akan sirna karena orientasi material yaitu, kerja agar bisa mencukupi kebutuhan pribadi dan memiliki kekayaan sesuai hawa nafsunya.

Secara umum, mereka akan mencari ilmu sesuai kebutuhan pangsa pasar bukan mencari ilmu untuk mengentaskan masalah Negara yang sesungguhnya yaitu, kerusakan tatanan Negara akibat penjajahan peradaban barat yang berakibat fatal di segala lini kehidupan.

Akibatnya, mahasiswa akan apatis dan pragmatis terhadap kebijakan public yang malah menyengsarakan masyarakat karena disibukkan dengan serba-serbi pelatihan kerja dari kampus. Sungguh lengkap sudah penderitaan mahasiswa zaman now. Mereka dijajah dari luar dengan konsep Food, Fun, and Fashion dan dari dalam negeri dengan kinsep kurikulum digital yang juga berasal dari Barat.

Jika penduduk Indonesia tidak punya kemampuan pendidikan mumpuni, maka yang akan terjadi adalah justru jadi ancaman yang menyedihkan banyak warga yang tak punya pekerjaan karena semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh para robot;sementara produktivitas robot yang bekerja jauh lebih efektif.

Akhirnya, banyak orang yang terancam kehilangan pekerjaan. Dan hanya mereka yang bermodal yang dapat merasakan pendidikan mumpuni  tersebut sementara mereka yang menengah kebawah tidak dapat merasakan pendidikan tersebut.sehingga semakin menderita dan sengsara.

Sebuah ironi yang seharusnya tidak terjadi, bahwa era revolusi industri 4.0 muncul di tengah permasalahan ketenagakerjaan seperti banyaknya pengangguran dan tingkat kesejahteraan manusia yang jauh dari standar layak.

Islam Memanfaatkan Teknologi

Masyarakat sering kali salah menilai penggunaan teknologi perindustrian dalam Islam. Mereka hanya terfokus pada cabang industri yang mendukung aspek ruhiyah Islam. Seperti industri penerbitan Islam, Industri busana dan asesoris muslim, atau industri yang mendukung ibadah haji, padahal seharusnya seluruh cabang perindustrian.

BACA JUGA :   Pengumuman Swab dan Tes Lapangan CTKL Crew Umum PT OSS Tahap 3

Islam sejatinya adalah agama yang sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam pun memberikan apresiasi terhadap perkembangan IPTEK.

Pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya. Dalam hal ini, Negara akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang menjadi tanggungannya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat),dan ia akan diminta  pertanggung jawaban terhadap urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Negara menyediakan berbagai fasilitas lapangan kerja agar setiap orang yang mampu bekerja dapat memperoleh diwajibkan untuk tunduk kepada syariat Islam. Karena Islam memiliki seperangkat aturan untuk mengatur semua spek kehidupan manusia. Seluruh cabang industry baik yang menghasilkan produk untuk konsumen akhir maupun yang menghasilkan seharusnya dibangun dan diatur dalam satu kerangka berpikir dan paradigma yang dilandasi oleh Aqidah Islam.

Perindustrian diarahkan untuk mampu mengatasi seluruh kebutuhan dari rakyat Negara Islam, baik muslim maupun non muslim. Tidak ada artinya berproduksi yang berorientasi ekspor, jika pada saat yang sama untuk berbagai kebutuhan yang mendasar harus mengimpor. Inilah sebenarnya yang dikhawatirkan terjadi ketika industri 4.0 diluncurkan oleh Negara yang tidak menerapkan sistem perindustrian Islam seperti saat ini.  Wallahu a’lam.(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co