Rezim Represif Membungkam Kritis Mahasiswa

Dita Asareta
Dita Asareta

Oleh : Dita Asareta, S.Sos (Pemerhati Sosial)



Syubbanul yaum rijalul ghaddi” artinya “pemuda hari ini adalah tokoh dimasa depan.” Pemuda dengan segenap potensi, sejatinya mampu mendongkrak perubahan dan merekalah seharusnya yang berdiri di garda terdepan untuk menyuarakan kebenaran. Namun, peran pemuda sebagai agent of change (agen perubahan) hari ini tidak diberi ruang untuk berbicara dan mengkritik penguasa. Potensi emas mereka mulai dikerdilkan, dengan rangkaian sanksi. Dari dikeluarkan (DO) hingga terancam tidak mendapat pekerjaaan di masa depan. Mirisnya lagi, mahasiswa yang melakukan demo penolakan UU Ciptaker diduga ada yang mensponsori.

 

Sebagaimana pernyataan dari Menteri Koordinator bidang perekonomian Airlangga Hartanto dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV bahwa demo mahasiswa tersebut adalah demo yang disponsori. Airlangga mengklaim siapa dalang yang menggerakkan demo dan mengetahui siapa pihak yang mendanai aksi demo tersebut. “Sebetulnya pemerintah tahu siapa behinddemo itu. Kita tahu siapa yang menggerakkan, kita tahu siapa sponsornya. Kita tahu siapa yang membiayainya.” tuturnya. Namun, pernyataan ini dikritik oleh Kepala Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Nelson Nikodemus Simamora menilai, tudingan tersebut merupakan pembodohan publik. Bahkan meminta Menteri Koordinator bidang perekonomian Airlangga Hartanto mempertanggungjawabkan pernyataannya tersebut. (detikfinance.com, 08/10/20).

 

Senada dengan Airlangga Hartanto, Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim pun ikut bertindak. Mendikbud mengeluarkan surat larangan untuk mahasiswa untuk tidak ikut dalam aksi demonstrasi, yang tertuang dalam surat imbauan bernomor 1035/E/KM/2020 tentang imbauan pembelajaran daring dan sosialisasi UU Ciptaker. Bahkan, para dosen diimbau untuk tidak memprovokasi mahasiswa agar menolak UU Ciptaker tersebut. Tak hanya sampai disitu, kebijakan kepolisian yang akan mempersulit pembuatan Surat keterangan Catatan kepolisian (SKCK), untuk memberikan efek jera pada para mahasiswa tersebut. Dimana diketahui bahwa, SKCK adalah salah satu persyaratan bagi anggota masyarakat untuk melamar pekerjaan.

BACA JUGA :   Mashyur Masie Abunawas  :  Keluarga Uztad Muzakir Ada Upaya Minta Maaf

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co