Rimba Papua Berkobar, Korporat Asing Behind the Scene

Mariana
Mariana

Oleh : Mariana, S.Sos ( Pemerhati Sosial dan Politik )


Dilansir oleh CNN Indonesia, 13/11/2020, Greenpeace: Perusahaan Korsel Bakar Hutan Papua Seluas Seoul. Lagi hasil Investigasi menunjukkan perusahaan asing berulah dan makin leluasa menunjukkan hegemoninya atas hutan milik rakyat Indonesia di Papua.

Sayangnya seringkali tindakan Asing ini hanya berhembus sementara tapi terlupakan selanjutnya hingga jejak kerusakan yang ditimbulkan akhirnya lenyap tertutupi oleh informasi lain padahal upaya penguasaan terhadap sumber daya hutan makin maksimal dan makin leluasa mereka gerogot.

Maka tidak heran, kepemilikan sumber daya alam milik rakyat negeri ini, makin terkuras dan habis terambil oleh pihak asing, bukan karena rakyat tidak peduli tetapi karena kekuasaan telah dikendalikan oleh oligarki yang haus akan modal.

Kolaborasi yang apik antara oligarki kekuasaan yang haus modal dan korporasi yang tamak bin serakah telah melahirkan negara korporatokrasi yang menyengsarakan rakyat dan merusak ekosistem hutan. `

Regulasi yang dibuat pun makin berpihak pada korporasi kapitalis yang kebanyakan berasal dari luar negeri, kekuasaan hadir hanya untuk menjadi pelayan yang memuaskan keinginan para korporat bukan untuk kepentingan rakyat, padahal singgasana yang diperoleh berasal dari tangan rakyat.

Inilah duka dalam sistem kapitalis, seringkali yang benar justu mendapat perlakuan buruk, sedang yang jahat mendapat karpet merah sebab benar dan salah tidak ditentukan dari bukti konkrit yang diperoleh tapi dari modal yang dimiliki hingga dapat membungkam mulut kekuasaan dan menghilangkan jejak kejahatan yang dilakukan.

Padahal seharusnya kekuasaan dan sistem hadir sebagai penyelamat rakyat untuk mengurusi kepentingan mereka dan membungkam perilaku buruk apalagi kejahatan asing yang hendak merampas tanah maupun hutan milik rakyat. Ironis nya, hal itu tidak berlaku dalam regulasi kapitalistik, sebab asas manfaat adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak harus dijaga, tentu hal itu diukur dari modal atau uang yang dimiliki.

BACA JUGA :   Ketua DPRD Konsel Pimpin RDP Sengketa Lahan Empat Desa

Ada hak yang telah dilanggar, ada tangisan yang terus mengalir, ada duka yang terus mendera, rakyat papua kehilangan hutannya padahal bisa jadi itu adalah tempat hidup sekaligus tempat mencari penghidupan. Begitupun dengan kerusakan ekosistem hutan, hilangnya habitat flora dan fauna, pun dengan ancaman jangka pendek dan panjang yang akan mendera rakyat papua, yakni ancaman kesehatan dan bencana alam.

Apakah hal itu pernah terlintas dibenak penguasa dan adakah sedikit rasa kasihan terhadap derita yang di alami rakyat papua? ataukah uang telah membutakan naluri penguasa sehingga kasih sayangnya terhadap rakyatnya telah lenyap.,Jika pelanggar yakni korporat asing perusak hutan tidak diberikan sanksi yang tegas maka jangan heran apabila makin banyak para pengusaha bermental perusak dan penjajah yang akan bercokol dan menguasai. Hingga negeri ini benar-benar jatuh ke tangan para kapitalis asing.

Sekaligus hal ini menunjukkan keberpihakan penguasa kepada para korporat pemilik modal dan abai terhadap penderitaan yang dirasakan rakyatnya. Rezim yang gagal memberikan rasa keadilan pada rakyatnya akan menjadi musibah bagi negara.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co