Risiko Besar Mengintai Pembukaan Sektor Pariwisata

Mustika Lestari
Mustika Lestari

Oleh: Mustika Lestari (Pemerhati Sosial)


Pemerintah Kota Kendari (Pemkot) akan membuka lokasi wisata andalan memasuki tatanan baru new normal. Lokasi wisata prioritas yang akan dibuka salah satunya adalah Kebun Raya. Walikota Kendari, Zulkarnain Kadir mengungkapkan bahwa untuk tahap ini pariwisata akan dibuka secara parsial serta memenuhi skala protokol kesehatan yang ditetapkan.

“Untuk wisata yang kami buka berdasarkan kawasan yang sudah zona hijau dan memenuhi protokol kesehatan,” ujarnya. Di samping itu, Pemkot Kendari juga sedang melakukan persiapan untuk membuka objek wisata permandian Pantai Nambo. Kebijakan itu akan dilakukan untuk pemulihan sektor ekonomi Kota Kendari yang bersumber dari pendapatan daerah, dan untuk objek wisata yang lain masih dalam pertimbangan dan pengkajian lebih lanjut (http://detiksultra.com, 1/7/2020).

Pariwisata Sebagai Sumber Materi Bagi Kapitalis

Hampir satu semester pandemi Covid-19 menyerang negeri ini. Berbagai jurus penanganan terus dilakukan oleh pemerintah mulai dari penerapan physical distancing hingga PSBB, akan tetapi roda perekonomian berputar semakin pelan dan nyaris terhenti, begitupun kasus tak kunjung menurun. Akhirnya, pemerintah segera mengambil jalan cepat dengan menyerukan untuk hidup berdamai dengan virus tersebut dalam kehidupan new normal, yaitu sebagai upaya untuk melanjutkan kehidupan masyarakat seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan sekaligus memutar kembali roda perekonomian.

Dengan dalih agar tetap produktif di era new normal, akhirnya pemerintah mencanangkan akan membuka beberapa sektor ekonomi salah satunya pariwisata di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk segera menyiapkan promosi pariwisata pada era kenormalan baru di tengah pandemi Covid-19. Beliau mengatakan bahwa geliat pariwisata belakangan ini terhenti akibat pandemi. Untuk itu, perlu adanya promosi wisata dengan mengutamakan unsur kesehatan dan keselamatan bagi wisatawan maupun pelaku usaha pariwisata. “Tatanan normal baru di sektor pariwisata yang kita harapkan produktif dan aman Covid-19,” ujarnya saat membuka rapat terbatas secara virtual (news.ddtc.co.id, 28/5).

Padahal, pemerintah telah memahami bahwa langkah membuka sektor pariwisata saat ini memiliki risiko besar. Namun, untuk membangkitkan lagi sektor ekonomi yang sejak awal terpuruk akibat pandemi, langkah ini pun tetap direstui. Tak terkecuali, Provinsi Sulawesi Tengara (Sultra) yang juga menyusul kebijakan tersebut.

Dilansir dari Kendaripos.co.id, selama pandemi Covid-19 merebak, aktivitas sektor pariwisata berhenti. Pendapatan daerah dari sektor itu nihil. Sehingga, Dinas pariwisata Sultra akan memulihkan ekonomi daerah dengan membuka kembali objek wisata yang kini tengah melakukan kajian dan menunggu petunjuk Gubernur Sultra, Ali Mazi. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sultra, I Gede Panca mengatakan bahwa pihaknya mulai menyosialisasikan pariwisata baru di tengah pandemi Covid-19. Ia bersama pihak Kementerian Pariwisata akan terus memberikan pemahaman dan pelatihan terhadap para pelaku pariwisata dalam penyelenggaraan pariwisata di tengah pandemi.

Menanggapi hal itu, dari laman sultra.antaranews.com, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui Badan Parekraf RI mengapresisi program pembangunan sektor kepariwisataan yang telah dilakukan pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara di masa kepemimpinan Gubernur Sultra Ali Mazi dan Wakil Gubernur Lukman Abunawas. “Atas nama Kementerian Pariwisata RI, saya mengapresiasi program pemerintah Sultra yang menempatkan sektor pariwisata sebagai program unggulan dalam memajukan pembangunan daerah untuk kesejahteraan masa depan masyarakat Sultra,” ujar Direktur Pengembangan Destinasi Kemenparekraf RI, Wawan Gunawan di Kendari, Jumat (19/6).

Jika kita perhatikan pembukaan destinasi wisata yang masih terlalu dini di tengah grafik kasus Covid-19 yang masih menanjak, tampak terlalu berani dan memaksa sebab memilki risiko yang sangat besar. Terlebih, jika tidak disertai jaminan keamanan yang pasti dari pihak yang bertanggungjawab. Pengunjung yang membludak sebagai bentuk euforia wisata tidak menutup kemungkinan dapat melahirkan klaster baru penularan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Jika mengacu persyaratan dari WHO, salah satu persyaratan untuk melakukan perbaikan di berbagai sektor adalah apabila penularan Covid-19 sudah dikendalikan. Sayangnya, hal ini seolah tak masuk dalam pertimbangan pemerintah demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah, fatalnya mereka mengabaikan hal-hal tersebut.

Sungguh, kebijakan membuka pariwisata di tengah pandemi ini wajar, karena sektor ini digadang-gadang akan menambah devisa negara. Termasuk Sultra yang menjadikannya sektor potensial sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Kebijakan ini semakin menunjukkan bahwa perhatian pemerintah kepada ekonomi berada di atas segalanya, bahkan nyawa rakyat sekalipun. Pariwisata yang identik dengan keramaian dapat menyebabkan social distancing dan protokol kesehatan tidak akan mampu diterapkan sepenuhnya di tempat wisata. Namun, pemerintah menilai, ketika pariwisata tidak segera dibuka, maka para pengelola akan minus pemasukan.

Beginilah yang terjadi ketika negara menganut sistem perekonomian kapitalis yang menempatkan rakyat sebagai tumbal sekaligus ladang untuk mengejar keuntungan semata. Ironisnya, disaat rakyat tengah kelimpungan menghadapi korban yang terus berjatuhan akibat virus Covid-19, bukannya memberi solusi performa rezim justru semakin memperlihatkan keabaiannya terhadap keselamatan rakyat. Langkah yang diambil hanyalah kebijakan tumpang tindih demi pemenuhan kepuasan ekonomi para kapitalis kelas kakap. Semestinya, penanganan pandemi menjadi prioritas di atas kepentingan apapun. Namun alih-alih mengabdi kepada rakyat, mereka lebih menempatkan diri sebagai pelayan para pemodal dengan maksud hakiki mendapatkan cipratan keuntungan. Maka, berharap solusi solutif bagi rakyat di tengah pandemi dari penguasa negeri kapitalisme ini hanyalah mimpi semata.

Islam Sebagai Solusi Terbaik di Tengah Wabah

 

            Sejatinya Islam itu adalah sebuah agama paripurna yang memiliki asas akidah yang kokoh, dimana terpancar darinya seperangkat aturan mengenai kehidupan yang diturunkan oleh Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Dialah yang Maha Mengetahui hakikat kebaikan dan kebenaran bagi setiap ciptaan-Nya.

            Islam berbeda dengan sistem hari ini. Jika dalam sistem kapitalisme, sektor wisata sebagai ladang meraup keuntungan, maka Islam memiliki konsep dan pandangan tersendiri. Islam memandang berwisata sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan menjadikan pengeksploran destinasi alam sebagai sarana edukasi masyarakat atas Kemaha Besaran-Nya. Tentu saja akan dilakukan dalam kondisi yang tidak membahayakan keselamatan masyarakat.

Adapun jika dalam situasi pandemi seperti saat ini, Islam akan lebih mengutamakan rakyat dalam memenuhi seluruh kebutuhan dasarnya demi menciptakan kemaslahatan bagi setiap individu. Mulai dari memenuhi segala pembiayaan atas kebutuhan pokok di daerah wabah, proses penyembuhan, obat-obatan dan lain-lain hingga wabah benar-benar telah berakhir. Tersebab, berwisata termasuk dalam kebutuhan tersier, maka tidak menjadi prioritas utama.

Di samping itu, Islam tidak menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan negara. Sebab Islam memiliki sumber pendapatan sendiri dengan mendayagunakan seluruh potensi kekayaan alam yang tersedia. Selain itu, terdapat sumber lain seperti fa’i, kharaj, jizyah, ghanimah dan sebagainya sebagai sumber pendapatan negara ataupun daerah. Jika hal ini juga dapat dilakukan di negeri ini, maka seluruh masyarakat benar-benar dapat merasakan kesejahteraan lahir maupun batin.

Sesungguhnya, inilah sistem Islam yang telah ditetapkan selama kurang lebih 13 abad lamanya dan membawa negara pada keberhasilannya menyelesaikan segala persoaalan yang ada. Semua itu dapat diraih tatkala segala urusan manusia diatur sesuai dengan pandangan hukum syariat. Maka, sudah menjadi keharusan bagi umat untuk kembali kepada naungan sistem Islam, sebagai sistem negara yang menjadikan aqidah Islam dalam menerapkan Islam Kaffah yang terbukti dapat mendatangkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bi shawwab.


error: Hak Cipta dalam Undang-undang