, ,

Solusi Kebutuhan Pangan Bernama “khilafah”

Oleh : Sitti Sarni, S.P

(Founder Komunitas Pejuang Islam)

OPINI : Lagi dan lagi perbincangan akan kenaikan harga pangan mendapatkan respon dari kepala staf kepresidenan, bukannya memberikan solusi malah jengkel ketika mendengar  ibu rumah tangga berteriak  harga pangan semakin mahal seperti yang dilansir detik com.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku jengkel ketika mendengar banyak ibu rumah tangga yang berteriak harga pangan saat ini mahal. Menurut Moeldoko, ibu-ibu rumah tangga tersebut seharusnya bisa lebih mandiri untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya dengan menanam sayur-sayuran di rumah.

“Kalau ada ibu-ibu teriak harga mahal, jengkel saya. Mbok ya ambil 2-3 pohon (untuk ditanam di rumah),” kata dia dalam outlook Agribisnis 2019 di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (13/12/2018)

Lebih lanjut, ia mengungkapkan benih tanaman tersebut tak perlu membutuhkan lahan yang luas.”Di plastic bag (kantung plastik) itu tumbuh. Saya sering, selalu nanya itu saya suruh goreng tempe, tahu sambil duduk di teras itu enak. Tapi bahasa kita sembrono sukanya itu mengeluh (harga mahal) tidak ada upaya keras untuk memenuhi kebutuhan pribadi,” ungkap dia.

Kapitalisme Akar Masalah

Akar masalah  lingkaran setan dari sistem ekonomi  di negeri ini tidak lain dan tidak bukan adalah diterapkannya sistem kapitalisme – sekularisme. Ya, kapitalismelah sistem hidup yang membawa ekonomi di negeri ini masuk kedalam jurang kehancuran.Dengan slogan dari-oleh-untuk rakyat dan kembali rakyat . Slogan tersebut hanya sebatas slogan, alih-alih menyejaterahkan rakyat malah menyengsarakan rakyat.

Kebutuhan pangan adalah kebutuhan pokok, seharusnya negara menjamin kestabilan harga untuk rakyat. Akhir tahun menjadi ajang lonjakan harga-harga termasuk pangan yang membuat kaum ibu menjerit. Rezim menyalahkan jeritan rakyat bukti kegagalan rezim mencukupi kebutuhan pokok/pangan rakyat. Hanya kita kembalikan ke ekonomi islam, rakyat akan sejaterah.

BACA JUGA :   GPMI Bongkar Dugaan Korupsi Pembangunan Puskesmas di Kota Makassar

penyebab kenaikan harga pangan adanya  penerapan sistem ekonomi kapitalis yang berasas sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) dengan prinsip dasar free entrepreneur dimana prinsip ini mengurangi/meniadakan peran negara dalam pengelolaan sumberdaya dan pelayanan masyarakat, terjadinya kesenjangan pendapatan serta praktek-praktek ekonomi yang mengganggu stabilitas ekonomi (korupsi, suap, monopoli, penimbunan, dan sebagainya).

Permasalahan pangan ini tidak bisa dipandang sebagai permasalahan yang parsial dan Islam memberikan solusi komprehensif untuk menanggulanginya. Negara Khilafah sebagai institusi pengayom umat bertanggungjawab untuk melindungi kebutuhan dan kepentingan rakyatnya.

Islam Solusinya

Ketahanan pangan dalam sistem Islam tidak terlepas dari sistem politik Islam. Politik ekonomi Islam yaitu jaminan pemenuhan semua kebutuhan primer (kebutuhan pokok bagi individu dan kebutuhan dasar bagi masyarakat) setiap orang individu per individu secara menyeluruh, berikut jaminan kemungkinan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu.

pada dasarnya pangan merupakan komoditas penting yang menjadi hak manusia. Dan negara wajib menjamin ketahanan pangan.Terpenuhinya kebutuhan pokok akan pangan bagi tiap individu ini akan menentukan ketahanan pangan sebuah negara. Selain itu, ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan yang dibutuhkan oleh rakyat besar pengaruhnya terhadap kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia.

Hal itu berpengaruh pada kemampuan, kekuatan dan stabilitas negara itu sendiri.  Juga mempengaruhi tingkat kemajuan, daya saing dan kemampuan negara untuk memimpin dunia. Lebih dari itu, negara harus memiliki kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dan pangan utama dari dalam negeri.

Sebab jika pangan pokok dan pangan utama berkaitan dengan hidup rakyat banyak tergantung pada negara lain melalui impor hal itu bisa membuat nasib negara tergadai pada negara lain.  Ketergantungan pada impor bisa membuka jalan pengaruh asing terhadap politik, kestabilan dan sikap negara.  Ketergantungan pada impor juga berpengaruh pada stabilitas ekonomi dan moneter, bahkan bisa menjadi pemicu krisis.  Akibatnya stabilitas dan ketahanan negara bahkan eksistensi negara sebagai negara yang independen, secara keseluruhan bisa menjadi taruhan.

BACA JUGA :   Tembusi Kubangan Lumpur DPRD dan Wartawan Tiba Diperbatasan Konawe - Koltim

ketahanan pangan dalam Islam mencakup: (1) Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok pangan oleh Khilafah; (2) Ketersediaan pangan dan keterjangkauan pangan oleh individu masyarakat; dan (3) Kemandirian Pangan Negara.

Islam merupakan agama yang tidak hanya mengurusi permasalahan ibadah mahdho saja. Tetapi Islam begitu sempurna, dalam masalah ekonomi seperti ketahanan pangan pun Islam punya solusinya. Ketahanan pangan dalam islam, memandang pemenuhan kebutuhan pokok dengan ketersediaan dan keterjangkauan pangan oleh tatanan individu masyarakat.

Serta ditambah dengan kemandirian negara. Islam mewujudkan ketahanan pangan, dari tatanan individu, masyarakat dan negara. Ketiganya itu mempunyai peran yang saling berkaitan.Waallahu A’lam


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co