Solusi Masalah Prostitusi

Oleh Fitriani S.Pd

(Pemerhati Umat)

Di awal tahun 2019, kasus prostitusi kembali menyeruak, menghebohkan dunia maya. Bukan yang pertama kali, melainkan telah terjadi berkali-kali. Bahkan, tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu di negeri dengan mayoritas kaum muslim terbesar di dunia ini.

Dihimpun dari cnn.Indonesia(06/01/2019,Personel Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur, pada hari Minggu, pukul 12.30 WIB siang, berhasil meringkus artis berinisial VA di sebuah kamar hotel di Surabaya. Di saat yang sama di lokasi yang berbeda, polisi juga menangkap AS dalam perjalanannya seusai dari bandara saat hendak menuju hotel. Dua artis tersebut kemudian dibawa ke Mapolda Jatim dengan dua orang lainnya.

Kasus praktik prostitusi yang melibatkan artis ini menyingkap fakta besar mengenai bisnis prostitusi yang semakin marak terjadi, mengancam tatanan sosial masyarakat. Artis VA dan AS serta mucikarinya sejatinya hanyalah salah satu yang terciduk. Sedangkan di luar sana, masih banyak praktik haram yang masih berjalan mulus dan digemari para pemuas nafsu.

Praktik inipun terus berkembang dengan pesat seolah tak terkendali, seiring sejalan dengan berkembangnya teknologi. Ya, bisnis haram ini telah merambah kepada media digital. Peredarannya bahkan semakin marak di area jejaring sosial. Bahkan, beberapa pakar mengungkapkan bahwa praktik ini sudah seperti bisnis.

Jika dalam hukum ekonomi dikenal sebagai hukum penawaran dan permintaan. Maka fenomena yang sekarang terjadi adalah permintaan akan wanita pemuas seks tinggi, bahkan dengan penawaran-penawaran yang fantastis. Sehingga tak wajar terkadang dibanderol dengan harga puluhan juta.

Faktor Kompleks

Jika dianalisis lebih dalam, sebenarnya praktik prostitusi ini disebabkan karena faktor kompleks yang berkaitan antara satu dengan yang lain. Adapun yang bisa penulis paparkan adalah:

Pertama, ada pelaku alias mereka yang bersedia dibayar. Tentu, materi kebutuhan ekonomi adalah hal yang paling dominan melatarbelakangi seseorang rela menjajakan tubuhnya kepada pria berhidung belang. Baik itu mereka yang ekonomi ke bawah maupun ekonomi ke atas. Apalagi untuk kalangan para artis dengan lifestyle tinggi namun hanya mengandalkan pendapatan dari memainkan sinetron/FTV. Sehingga, jika jobnya telah berkurang, otomatis pendapatanpun menipis. Tak ayal kemudian cara instan diambil, guna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sudah terlanjur glamour.

BACA JUGA :   Demo Kedatangan TKA China, Massa Aksi Memaksa Masuk Bandara Haluoleo

Apalagi kesenjangan ekonomi yang menjadi persoalan di kalangan masyarakat juga semakin menghimpit dengan kemiskinan membuat akses masyarakat untuk menerima pendidikan semakin rendah. Akibatnya, peluang untuk memperoleh pekerjaan yang layak pun semakin kecil bahkan sangat sulit. Apalagi saat ini harga kebutuhan pokok melambung dan lapangan pekerjaan sangat minim. Kondisi inipun akhirnya semakin menghimpit dan menekan seseorang, untuk berpikir pragmatis agar cepat memperoleh uang. Termasuk mereka rela menjadi pekerja seks untuk para pejabat, pengusaha bahkan para politisi agar dapat uang tambahan.

Kedua, ada pelanggan, yaitu mereka yang bersedia membayar jasa prostitusi dengan mahal.Praktek prostitusi niscaya akan tenggelam, jika tidak ada bos-bos yang bersedia membayar dengan harga tinggi. Merekalah, para hidung belang yang bebas mengekspresikan naluri seksualnya dengan hanya bermodalkan uang. Seolah semua bisa dibeli dengan uang, termasuk tubuh seorang wanita.

Kondisi ini pun bak gayung bersambut. Di satu sisi para pejabat misalnya, mereka mempunyai uang untuk memuaskan nafsu seksnya, sementara di sisi lain para artis membutuhkan banyak materi untuk memenuhi gaya hidupnya. Hubungan yang saling menguntungkan pun terjadi atau istilahnya disebut dengan simbiosis mutualisme.

Ketiga, Faktor paradigma yang sudah membudaya juga menjadi faktor yang menambah tekanan di tengah keterpurukan. Orang-orang di sekitar bahkan keluarga pun kebanyakan mempunyai prinsip bahwa kesuksesan dilihat dari seberapa banyak materi yang diraih. Kondisi ini akan menekan aspek psikologis seseorang yang menganggap dirinya tidak berguna karena status pengangguran. Perasaaan yang terus menghakimi akan membawa seseorang untuk memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang tanpa mempertimbangkan cara mendapatkan uang dari pekerjaan yang dijalani.

Keempat, karena hukum yang masih tumpul. Pemerintah dalam hal ini hanya memberikan hukuman kepada para mucikari saja, sedangkan pelaku, pelanggan maupun hotel tidak diberikan hukuman apa-apa. Di dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(“KUHP”), tidak ada pasal yang dapat digunakan untuk menjerat pengguna PSK maupun PSK itu sendiri.

Ketentuan KUHP hanya dapat digunakan untuk menjerat penyedia PSK/germo/mucikari berdasarkan ketentuan Pasal 296 jo. Pasal 506 KUHP yang bunyinya, Barang siapa yang mata pencahariannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.

BACA JUGA :   Legalisasi Zina, Potret Buram Liberalisme

Sungguh, masih banyak lagi faktor lain yang menyebabkan seseorang terjerumus dalam praktik prostitusi, yang dianggap sebagai jalan praktis mendapatkan uang yang banyak. Praktik ini sebenarnya hanyalah asap yang mengepul akibat buruknya tatanan kehidupan masyarakat saat ini. Penerapan sistem sekularisme dan kapitalismelah dalangnya. Pemisahan agama dari kehidupan telah membuat kaum muslim hari ini menganggap materi adalah segalanya, sedangkan ridho Allah di sepelekan.

Hingga hal ini seolah menjadi sesuatu yang telah mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat. Tingkat gengsi antar individu yang menciptakan setiap orang berlomba-lomba untuk cepat kaya. Kondisi ini telah menghasilkan budaya dalam masyarakat yang serba bebas dan hedonis.Orientasi hidup yang serba ada dalam bentuk materi membawa paradigma berpikir serba praktis, berhasil membuka jalan untuk mendapatkan hasil dengan instan. Termasuk menjajakan diri untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Islam Mengentaskan Prostitusi

Islam belasan abad yang lalu, sudah berhasil memberantas perzinahan di kalangan Arab dulu, dan tentu kinipun Islam memiliki solusi mengatasi problem perzinahan seperti masalah prostitusi.

Pertama, Islam memandang bahwa seks tanpa ikatan pernikahan termaksud prostitusi adalah zina sebagai tindakan maksiat dan kriminal, yang juga berbahaya dan mengancam masyarakat. Karena itu, Islam tegas menyatakan bahwa seks bebas zina adalah haram dan termasuk perbuatan keji yang harus dijauhi. Allah SWT berfirman : Janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.

(TQS al-isra : 32) Larangan mendekati zina berarti juga larangan atas segala perkara yang bisa mendorong, mengarahkan, dan menyerukan kepada perzinahan di masyarakat. Karena itu, berbagai media audio, visual dan bentuk apapun yang memuat unsur pornografi, haram beredar dan harus dijauhkan dari masyarakat. Pelakunya harus ditindak tegas sesuai ketentuan ta’zir. Ditambah masyarakat pun mesti berperan dalam konteks amarma’ruf nahi mungkar. Mencegah dan melaporkan segala kegiatan kepada aparat.

Kedua, Islam mewajibkan negara untuk menanamkan dan memupuk keimanan dan ketakwaan pada diri rakyat sejak dini. Hal ini bisa dilakukan dengan dibarengi pelaksanaan sistem pendidikan Islam yang mampu menjelaskan pada seluruh rakyat,bagaimana Islam mengatur pergaulan pria wanita, masalah khalwat, ikhtilat, hukum menutup aurat, menikah dan lain-lain.

BACA JUGA :   Islam Mendudukan Poligami Sebagai Solusi

Ketiga, dalam negara Islam palang pintu terakhir pencegahan maraknya perjudian adalah penerapan had atau sanksi yang tegas dan keras terhadap para pezina. Pezina ghair muhshan atau belum menikah dihukum cambuk 100 kali (TQS an-nur ayat : 2) atau hukuman bisa ditambah dengan pengasingan selama setahun sesuai kehendak khalifah. Namun, pengasingan ini hukumnya boleh, bukan wajib.

Hal ini sesuai tindakan Rasul SAWdalam beberapa riwayat ( lihat hadis riwayat Muslim : 3200). Jika pelaku zina adalah muhshan atau sudah pernah menikah, maka wajib dirajam, yakni dilempari dengan batu ukuran sedang serta ditanam di tanah setinggi dada, hinggameninggal dunia (HR. al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud)Boleh juga hukuman digabung dengan cambuk terlebih dahulu, namun cambuk bagi pezinamuhshan hukumnya boleh.Sementara yang wajib adalah hukum rajamnya (HR. Muslim).

Tentu, semua itu dilakukan setelah perizinan terbukti dengan pembuktian yang syar’i, yakni ada empat orang saksi yang adil, atau pengakuan pelaku, atau bukti kehamilan wanita dengan disertai pengakuan. Semua bukti-bukti tersebut harus dikemukakan di pengadilan, dan bukan karena dipaksa untuk melakukan zina.

Pelaksanaan eksekusi hukuman itu pun harus disaksikan publik secara terbuka (TQS surah An-Nur : 2 ). Yang tak kalah penting, bahwa pelaksanaan sanksi zina tersebut, selain mengandung efek jera, juga menjadi penebus dosa si pelaku Jika dia seorang muslim. ( lihat, HR Al-Bukhari dan Muslim)

Ke empat, parapelaku yang mempropagandakan kebebasan seks alias zina maupun yang mempromosikannya, wajib juga ditindak tegas dengan hukuman yang sangat tegas, maka efek jeranya benar-benar efektif mencegah orang melakukan perzinaan ataupun mempropagandakan perzinahan.

Kelima, selain itu negara dalam Islam, wajib menjaga kondisi ekonomi rakyatnya. Sehingga tidak akan muncul alasan ekonomi yang mendorong praktik prostitusi dengan beragam modus. Negara mengelola sumber daya alam sebaik mungkin, yang hasilnya itu akan dikembalikan kepada rakyat.

Dengan sanksi yang tegas bagi para pelaku zina dan disertai pelaksanaan sistem Islam lainnya, umat bisa terlindungi dari perilaku seks bebas seperti kasus prostitusi dan berbagai bencana yang disebabkannya. WallahuA’lam Bishawab

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co