Solusi Tepat Problematika Kemiskinan di Sultra

Irayanti S.AB

Oleh : Irayanti S.AB (Relawan Media)


Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) telah merilis Profil Kemiskinan di Sultra per September 2020 pada Senin (15/2/2021). Hasilnya menunjukan bahwa september 2020 angka kemiskinan di Sultra meningkat dibandingkan bulan Maret 2020. Apakah problematika ini terjadi akibat ulah si covid-19 semata?

 

Data Kemiskinan Sultra

Selama periode Maret hingga September 2020, garis kemiskinan di Sultra naik sebesar 3,39 persen. Yaitu dari Rp356.444 per kapita per bulan pada Maret 2020 menjadi Rp368.529 per kapita per bulan pada September 2020. Jadi, bulan September 2020, secara rata-rata rumah tangga miskin di Sulawesi Tenggara memiliki 5,14 orang anggota.

 

Saat dimintai informasi oleh media zona sultra.com, Agnes Widiastuti selaku Kepala BPS Provinsi Sultra menjelaskan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2020 sebesar 7,62 persen, naik 0,48 poin terhadap Maret 2020. Sementara persentase penduduk miskin di daerah pedesaan pada September 2020 naik 0,43 poin dibanding bulan Maret 2020.

 

Agnes Widiastuti juga mengatakan, besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Problem Dulu, Kini dan Nanti

Kemiskinan memang telah menjadi lagu lama di Sultra dan secara umum di Indonesia. Sebelum korona bertamu di bumi khatulistiwapum, kemiskinan telah menjangkiti rakyat. Dikatakan sebuah rumah tangga berada pada kemiskinan karena pendapatan yang diperoleh berada pada garis kemiskinan.

 

Garis kemiskinan per rumah tangga adalah gambaran besarnya nilai rata-rata rupiah minimum yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga untuk memenuhi kebutuhannya agar tidak dikategorikan miskin.

BACA JUGA :   Pajak Galian C, Pundi Kesejahteraan Rakyat!

 

Kemiskinan yang menimpa umat bukan hanya sebatas karena individu tapi lebih kepada kemiskinan struktural/sistemik. Yaitu kemiskinan diakibatkan oleh sistem yang diberlakukan oleh negara/penguasa. Mengapa demikian? Karena jika hanya secara individual, maka hal itu bisa diatasi oleh aktivitas sosial kemasyarakatan yang sering dilakukan berbagai ormas islam. Sayangnya, memberi uang atau pekerjaan kepada seseorang tidak mampu menyelesaikan kemiskinan jika akar masalahnya adalah sistem yang diterapkan dalam kehidupan memposisikan rakyat pada keadaan termiskinkan.

 

Pemberian bantuan-bantuan sosial yang ada tidak mampu menuntaskan kemiskinan. Apatahlagi bantuan yang ada dikebiri pula oleh para pejabat tamak. Sudahlah dikebiri ternyata bantuan yang adapun adalah hasil utang berbunga (baca riba) yang dipinjam oleh negara. Betapa susahnya bumi pertiwi padahal ia terkenal dengan sebutan zamrud khatulistiwa.

 

Lihat pula betapa bumi Sulawesi Tenggara yang lumayan memiliki beberapa tambang atau hasil alam tapi tidak mampu menyejahterakan rakyat. Yang ada malah di miliki oleh kapitalis.

 

Termiskinkan oleh sistem yang rusak tidak akan mampu mengentaskan kemiskinan hingga ke akarnya. Sistem kapitalisme namanya. Berasaskan sekularisme yang syarat akan keliberalan dan asas manfaat, sistem inilah yang menjadikan kekayaan alam dapat diprivatisasi,dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang (para kapitalis). Padahal seharusnya kekayaan SDA yang menjadi milik umat dan dapat menyejahterakan rakyat.

 

Kemiskinan Tuntas dengan Islam

Islam bukan sekedar agama ritual dalam mengatur manusia. Islam merupakan akidah sekalgius ideologi yang didalamnya problematika umat diselesaikam berdasarkan Quran dan Sunnah. Menuntaskan kemiskinan pun Islam sangat mampu bahkan terbukti.

 

Pertama: Secara individual, Allah Subhana Wa Ta’ala memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS Al-Baqarah (2) : 233).

BACA JUGA :   Kapolres Konawe Menggelar Apel Siaga Pemilu, di Halaman Kantor Bupati Konawe

 

Kedua: Secara jama’i (kolektif) Allah Subhana Wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).”

 

Ketiga: Allah Subhana Wa Ta’ala memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).”

 

Ada sekelumit peran penguasa yang memimpin dengan syariah Islam yang berusaha terwujudnya kesejahteraan rakyat. Diantaranya khalifah Umar bin Khattab. Beliau pernah melakukan sidak malam untuk mengawasi ada atau tidaknya rakyat yang kelaparan. Lalu ditemuilah seorang ibu-ibu yang memasak batu demi menyiasati anak-anaknya yang kelaparan. Hinggalah sang khalifah pergi memanggul gandum dengan bahunya sendiri dari baitul mal lalu diberinya kepada ibu tersebut. Betapa takutnya beliau akan pertanggungjawaban.

 

Lalu masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang membuat kebijakan pemberian insentif untuk membiayai pernikahan para pemuda yang kekurangan uang. Bahkan masa kekhilafahannya tidak didapati seorangpun yang dapat diberi zakat. Maa Syaa Allah.

 

Beberapa penguasa di atas memerintah dengan aturan pencipta manusia hingga manusia pun sejahtera akan aturan-Nya. Baik dari segi ekonomi, hukum dan sebagainya. Kembali kepada sistem Islam memang sebaik-baik solusi atas problematika umat. Bukan hanya di Sultra namun juga semesta.

 

Wallahu a’lam bishowwab


 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co