Sulitnya Bertahan Hidup di Negeri Kaya Sumber Pangan


Oleh : Zulhilda Nutwulan, S. Pd

(Member WCWH sulawesi Tenggara)


Mira (38) Warga Nanga-nanga, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari  harus mendorong gerobak menyusuri tiap-tiap bak sampah di seputaran Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara setiap harinya demi mencari sesuap nasi. Mira ditemani empat anaknya sudah terbiasa menghabiskan waktu di jalanan. Aktivitas ini berulang setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup serta biaya sekolah anak-anaknya.

Keempat anak Mira yang masih belia bukan tak ingin hidup normal seperti anak seusianya, namun keadaan memaksa mereka untuk hidup keras demi tetap bertahan hidup. Terlihat raut wajah yang memilukan ketika Mira ditanya soal penghasilannya mengais sampah.

“Kalau dibilang cukup, ya dicukup-cukupkan saja buat kebutuhan sehari-hari,” ungkap Mira, memaksa tersenyum. Begitulah respon yang diungkapkan Mira ketika ditanya tentang penghasilannya.

Miris sekali, negeri ini kaya akan pangan bahkan hasil pertanian, laut dan sumber daya alam lainnya melimpah ruah. Namun masih ada saja warga yang harus bertahan hidup dipinggir jalan demi mendapatkan pangan. Inilah potret kehidupan dalam negara kapitalis. Kondisi ekonomi rakyat di dalam sistem kapitalis tidak akan pernah merasakan sejahtera. Kebutuhan pokok adalah kebutuhan yang menjadi beban hidup masing-masing rakyat.

Penghasilan Mira setiap minggu dari hasil memulung sampah hanya berkisar dua ratus ribu rupiah. Ini bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang lain. Tak jarang mereka hanya bisa makan tiap Senin-Kamis. Ironis memang. Dikala masih banyak warga kecil yang harus menanggung hidup sendiri disisi lain pemerintah sibuk mengatur strategi dagang dengan kaum kapital.

Keberhasilan meraih penghargaan mengelola tata kota, kerjasama internasional,  digembar-gemborkan bak menang piala oskar, namun kegagalan dalam meriayah rakyat disembunyikan bak bau bangkai. Pemerintahan kapitalis memang erat dengan sandiwara, menutup mata dengan kesengsaraan rakyat namun bermanis muka pada kaum kapital.

Demi meraup keuntungan yang besar pemerintah bahkan menyerahkan aset negara untuk dikelola asing. Ini adalah langkah yang ceroboh. Dengan berbekal pengalaman yang banyak, Asing dengan mudah bisa saja mengambil alih seluruh aset milik negara. Saat seluruh aset negara dikuasai asing bukan tidak mungkin warga negara Indonesia akan menjadi budak dalam daerah mereka sendiri. Hal ini semakin melegalkan jika kesengsaraan yang dihadapi rakyat tidak akan pernah berakhir.

Pentingnya Riayah Pemerintah bagi Rakyat

Kisah Mira ternyata hanya satu dari sekian kasus kemiskinan yang muncul di pemberitaan. Masih ada kisah lain yang juga datang dari seorang pemulung yang berasal dari Kota Raha, Sulawesi Tenggara. Sebut saja Agus.

Dilansir dari TELISIK.ID, Agus (32), adalah satu dari beberapa pemulung yang harus menyambung hidup dengan mencari barang bekas di sekitar wilayah Kota Raha, Kabupaten Muna. Agus tinggal di salah satu kebun milik orang lain yang ada di Kelurahan Watonea, Kecamatan Katobu, bersama tiga orang anak yang masih bersekolah di tingkat SD dan SMP.

Kehidupan mereka sehari-hari hanya digantungkan pada mata pencaharian Agus yang bekerja sebagai pemulung barang rongsokan yang ada di Kota Raha, karena istrinya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga saja.

Penghasilan Agus setiap harinya kisaran Rp. 50 ribu sampai Rp. 80 ribu tergantung banyak tidaknya barang bekas yang didapat. Tambahnya, Ia merasa terbebani dengan kehidupan sehari-hari terlebih ketiga anaknya semua bersekolah yang memakan biaya tidak sedikit. Namun penghasilan yang sedikit tidak memutuskan tekad Agus untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi nantinya. Ia juga berharap agar pemerintah lebih memperhatikan kondisi masyarakat seperti mereka.

Memang benar apa yang dikeluhkan Agus dan juga masyarakat miskin lainnya. Pemerintah sebagai pengayom dan pelayan bagi masyarakat sudah sepantasnya mengutamakan kesejahteraan rakyat terlebih lagi rakyat kecil. Kebutuhan ekonomi rakyat terkhusus sandang, pangan dan papan harusnya menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan baik pemerintah pusat maupun di daerah.

Masyarakat adalah amanah bagi pemerintah, sehingga sangat zalim jika masih ada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi dinegeri yang kaya akan sumber dayanya apatahlagi hanya perkara perut. Pemerintah dipilih oleh rakyat tidak sekedar memperjuangkan hak-hak rakyat di meja dewan namun juga harus terjun langsung mengurusi keperluan hidup rakyat, contohnya menjamin segala kebutuhan rakyat baik ekonomi, sosial maupun pendidikan.

Sayangnya, berharap sejahtera di sistem kapitalis ini nampaknya sesuatu yang utopis. Sejak kemerdekaan Indonesia faktanya negeri ini belum benar-benar merdeka. Faktanya segala bentuk aturan yang dikeluarkan pemerintah tidak lepas dari kontrlo maupun pengaruh asing dan kaum pemodal (kapital). Undang-undang sebatas undang-undang namun keberadaannya belum benar-benar terealisasikan untuk menyokong kesejahteraan rakyat. Periayaahan pemerintah dalam mengelola kebutuhan pokok sangat jauh dari kata cukup, karena orientasi negara dalam sistem kapitalis bukan sebagai pelayan kebutuhan rakyatnya melainkan sebagai regulator dan wasit dalam penyedia kebutuhan. Walhasil, akan banyak didapati rakyat yang hidup berada dalam kekurangan dan kelaparan.

Itulah mengapa terjerat dengan kungkungan kapitalis adalah musibah besar bagi sebuah negara. Para kapitalis tidak akan melepas cengkeramannya pada negara-negara yang kaya bahkan menggaruk hingga kedalam tanah harta kekayaan negara pembebeknya. Berhukum dengan penjajah tidak akan mendatangkan sejahtera melainkan menysakan kesengsaran yang paten.

Islam dalam meriayah Umat

Islam bukan sekedar agama namun juga merupakan sebuah sistem. Dalam sistem islam, negara berperan sebagai pelayan kebutuhan rakyat. Pemimpin dalam islam tidak sekedar pengurus namun juga sebagai junnah (pelindung).

Pemimpin dalam islam bahkan rela terjun langsung mengantarkan bahan makanan bagi masyarakatnya yang kekurangan saking takutnya para pemimpin islam menzalimi umat. Dikisahkan, Umar bin Khaththab pernah memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada seorang ibu dan dua anaknya yang kelaparan sampai-sampai memasak batu.  Atau ketika beliau di tengah malam membangunkan istrinya untuk menolong seorang perempuan yang hendak melahirkan. Begitu juga yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang berusaha keras memakmurkan rakyat dalam 2,5 tahun pemerintahannya sampai-sampai tidak didapati seorangpun yang berhak menerima zakat.

Kemudian, dalam islam haram hukumnya menyerahkan kekayaan negara dikelola oleh asing. Harta kekayaan negara milik seluruh masyarakat sehingga wajib bagi masyarakat menggunakan harta kekayaan negara seperti air, tanah, energi dan sumber daya alam yang lain.

Kesempurnaan aturan Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunah dalam mengatur politik dan ekonomi negara, membuat Khalifah (pemimpin) tidak gamang dalam mengambil keputusan. Keunggulan sistem keuangan negara baitulmal tidak diragukan lagi dalam menyediakan pembiayaan negara.

Begitu pula keunggulan sistem politik. Dengan kewenangan penuh Khalifah kala mengambil keputusan, terbukti efektif dan efisien menyelesaikan persoalan di masyarakat. Terutama dalam situasi extraordinary (kejadian luar biasa).

Allah mengingatkan umat manusia di muka bumi, “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS Ar Rum 41).

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang