Sulsel Terendam Banjir Redam Dengan Sabar, Saudaraku

Oleh : Risnawati, STP

(Sataf Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka)

 Tribunnews.Com, Makassar – Hujan deras sehari semalam yang disertai angin kencang membuat Kota Makassar dan 6 kabupaten di Sulawesi Selatan diterjang banjir.

Sebuah jembatan dan sejumlah rumah warga terseret arus deras dari aliran Sungai Jeneberang, Selasa (22/1/2019).

Sebagian wilayah di Kota Makassar terendam banjir akibat curah hujan yang tinggi.

Ratusan rumah penduduk terendam banjir, bahkan warga sebagian mulai mengungsi ke rumah keluarganya yang tidak terendam banjir.

Banjir terparah di Kota Makassar berada di Kelurahan Paccerakkang dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Demikian pula beberapa wilayah di enam Kabupaten di Sulsel yakni, Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkep dan Barru.

Selain air hujan yang cukup deras, air kiriman dari pegunungan Bawakaraeng yang mengalir di sungai-sungai enam kabupaten ini meluap.

Sebuah jembatan yang berdekatan dengan Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa ambruk terbawa derasnya arus Sungai Jeneberang yang airnya berasal dari pegunungan Bawakaraeng. Ketinggian air di Bendungan Bili-bili pun sudah hampir sampai pada ambang batas yakni 103 meter.

Sikap Muslim Menghadapi Musibah

Bencana alam merupakan musibah yang sudah ditakdirkan Allah kepada kita. Secara makna musibah dalam bahasa Arab berarti mengenai, menimpa, atau membinasakan. Muhammad Husein Thabataba’i, ahli tafsir modern dalam kitabnya, Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, menyatakan bahwa musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki. Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nasr at-Thabari pernah mengatakan, ”Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah.”

Relevansi antara musibah dan sabar, sangat berkaitan dan semestinya berjalan beriringan. Manusia tidak bisa mengelak dari musibah. Namun manusia bisa menyiasati agar dia tidak larut dalam kebinasaan ekses dari musibah yang dihadapinya. Untuk itu perlu adanya strategi agar tidak larut dalam kesedihan. Manusia memang sudah disifati dengan keluh-kesah bila mendapat musibah dan lalai kalau mendapat nikmat atau kelapangan setelah berlalunya musibah yang baru dihadapinya.

BACA JUGA :   Dolar Naik, Rupiah Panik

Di sinilah sabar memiliki posisi penting agar pengharapan lepas dari himpitan itu hanya semata-mata kepada Allah. Secara bahasa, sabar artinya tahammul, yakni daya tahan atau daya pikul. Sebuah kemampuan karunia Allah yang paling besar setelah iman. Musibah adalah ujian bagi keimanan seseorang (baca QS Muhammad [47]: 31). Semakin berat ujian yang dialami seorang hamba, maka Allah hendak mengangkat derajatnya lebih tinggi karena keimanannya akan meningkat. Namun bila sebaliknya, dia tidak sabar dalam menghadapi musibah itu dan lalai dalam mengingat Allah maka derajat keimanannya akan statis atau turun.

Musibah dalam hidup ini bisa menimpa kita kapan saja. Tak ada yang ingin mendapat musibah dalam hidupnya. Namun itu mustahil adanya, karena musibah adalah salah pintu meningkatkan derajat seseorang. Tanpa kesabaran dalam menghadapi musibah atau ujian itu sama saja dengan orang jatuh lalu tertimpa tangga. Dia dapat dua kemalangan sekaligus, kesempitan hati karena musibah yang dialaminya dan kedudukan yang rendah di mata Allah dan makhluk. Orang yang tidak sabar cenderung bersikap pesimistis dan hanya akan menjadi beban bagi orang lain.

Sedangkan mereka yang menempatkan kesabaran sebagai perisai, berarti mereka memiliki modal penting untuk bangkit setelah musibah itu berlalu. Dalam kesabaran, tersedia energi yang dapat membuka peluang untuk lebih maju dari sebelumnya. Dalam artian, seorang muslim harus melihat musibah yang tengah dihadapinya itu sebuah batu loncatan untuk mengasah diri agar menjadi lebih baik. Karena musibah itu memberikan pelajaran dan hikmah bagi mereka, agar tidak terpuruk untuk kali kedua. Mereka akan lebih berhati-hati dan kemungkinan besar tidak akan terperosok pada lubang yang sama.

Demikianlah ujian itu akan makin memantapkan kedudukannya di sisi Allah sekiranya mereka bersabar menghadapinya. Namun sebaliknya, bila mereka tidak mampu menerima musibah yang terjadi ini sebagai ujian dari Allah, lalu mereka berputus asa dari mengharap pertolongan Allah apalagi jatuh ke perbuatan maksiat, maka mereka termasuk orang-orang yang merugi.

BACA JUGA :   Warga Desa Sulaho Keluhkan Lumpur Tambang, Pemda Kolut Jangan Tutup “Mata”

Selain itu, bencana alam yang terus mendera bangsa ini bisa memberikan pelajaran pada kita untuk dapat mengharagai alam. Bijak dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di alam secara optimal tanpa melakukan eksploitasi yang berlebihan. Yang terpenting dari itu semua, musibah atau ujian yang meninpah silih berganti itu merupakan teguran Allah agar kita mau membuka mata hati. Menginsyafi atas segala maksit dan kezaliman yang kita lakukan kepada Allah, yang sejatinya kita menzalimi diri kita sendiri.

Alhasil, beruntunglah orang-orang yang melewati segala musibah ini dengan sabar dan ikhlas dan mengharapkan pertolongan hanya kepada Allah untuk melapangkan himpitan itu. Karena mereka akan mendapat kedudukan yang lebih mulia dan derajat terhormat di sisi-Nya. Namun tak ada kebaikan apa-apa selain dari kerugian bagi mereka yang berputus asa mengharap pertolongan Allah dari musibah yang mendera mereka.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”Tak seorang hamba (muslim) tertimpa musibah lalu ia berdoa: ‘Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.’ Ummu Salamah berkata: Saat Abu Salamah wafat, aku berdoa sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, lalu Allah memberi ganti untukku yang lebih baik darinya, yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (Muttafaq ‘Alaih).Wallahu a’lam(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co