Tambang Pasir di Buteng Menuai Polemik

Oleh: Nita Karlina


 

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan hasil sumber daya alam, baik sumber daya alam darat, laut maupun udara. Keberadaan sumber daya yang melimpah kurang termanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Pemanfaatan sumber daya yang tidak tepat akan menyebabkan kerusakan lingkungan.

Seperti yang di lansir oleh Telisik.id, 14/02/2021 Penambangan pasir yang dilakukan di Desa Balobone dan Desa Napa di Kabupaten Buton Tengah menuai polemik. Penambangan tersebut telah berjalan dari tahun 2000, kini menjadi sorotan  dari berbagai pihak, dari masyarakat maupun dari pihak pemerintah daerah.

Kepala Desa Balobone, Sabandia mengungkapkan, penambangan yang menggunakan bahan dasar pasir di pantai ini sudah diolah sejak tahun 2000an hingga sekarang.”Awalnya itu kita menyurat ke daerah tentang polemik tambang pasir di Balobone dan Desa Napa itu karena sudah sangat memprihatikan sekali. Makanya kami minta dukungan dari pemerintah daerah untuk meninjau langsung bersama Setda Buteng,” ungkapnya, Selasa (16/2/2020).

Ia menambahkan, kebutuhan masyarakat dengan pasir ini sangat diperlukan, namun di sisi lainya apabila penambangan itu tetap dilakukan maka desa ini akan hancur karena berkaitan dengan lingkungan.”Jadi yang susahnya itu yang melakukan penambangan ini adalah di kintal pribadi masyarakatat tepatnya di pesisir pantai,” katanya.

Olehnya itu, pihaknya sudah menyurat ke pihak pemerintah daerah Buteng untuk meninjau serta menemukan solusi dari masalah ini. Menanggapi hal tersebut, Setda Buteng Kontatinus Bukide mengaku sudah meninjau tambang pasir tersebut dan sangat memprihatinkan. Dimana, kurang lebih sudah 1 km dari garis pantai menuju daratan terkuras habis pasirnya dan tinggal kubangan yang terlihat. Aktivitas penambangan pasir yang ada wilayah Desa Balobone hingga Desa Napa, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara telah banyak merusak lingkungan dan sangat memprihatinkan.(Republiknews.co.id, 04/02/2021)

BACA JUGA :   Korban Sistem, Pejabat yang Tak Tau Makna Infrastruktur Sesungguhnya

 

Pantai sepanjang kurang lebih lima kilo meter di dua Desa tersebut pasirnya dikeruk atau digali dalam jumlah yang besar. Pasir yang digali itu kemudian diangkut oleh mobil dump truck lalu dijual hingga keluar Daerah.  Akibatnya, Pantai dengan pasir putih yang dulunya indah dan menjadi tempat wisata kini sudah terlihat rusak dan dipenuhi lubang-lubang akibat penambanganAktivitas penambangan ini telah mendapatkan banyak kritikan publik. Mulai dari kelompok mahasiswa hingga pemuda yang berasal dari Desa Balobone dan Napa. Mereka menolak adanya penambangan pasir tersebut dengan alasan merusak lingkungan dan tidak memiliki izin (ilegal).

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co