Terbuangnya Muslim Rohingya, Potret Kekejaman Nasionalisme

Zulhilda Nurwulan,
Zulhilda Nurwulan,

Oleh  Zulhilda Nurwulan, S. Pd (Relawan Opini Kendari)


Sekat-sekat nasionalisme telah menghilangkan rasa persaudaraan sesama manusia di belahan dunia yang berbeda. Tiap-tiap negara akan tersibukkan dengan urusan dapurnya sendiri tanpa perduli soalan sandang, pangan serta papan rumah tangga negara yang lain.

Akan tetapi, hal ini hanya berlaku jika yang menjadi korban adalah umat muslim sedangkan jika hal semacam ini menimpa umat yang lain maka dunia akan segera memberi dukungan.

Seperti yang tengah menimpa rakyat Rohingya kini, status kewarganegaraan mereka tidak jelas bahkan harus tinggal di tempat yang asing bagi mereka. Dilansir dari BBC News Indonesia, pemerintah Bangladesh memindahkan Sekitar 1.600 pengungsi ke Pulau Bhasan Char, sebuah pulau  yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal, pada Jumat (04/12).

Menurut Pemerintah Bangladesh, pemindahan ini dilakukan atas persetujuan para pengungsi Rohingya. Namun, hal ini berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh para pengungsi Rohingya.

Kepada BBC pada Oktober, mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin dipindahkan ke pulau itu. Kelompok pegiat HAM, Human Rights Watch, mengatakan mereka telah mewawancarai 12 keluarga yang namanya ada dalam daftar pengungsi yang dipindahkan. Para pengungsi itu mengatakan bahwa mereka tidak secara sukarela pergi.

Muslim Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine di Myanmar beragama muslim. Muslim Rohingya adalah korban diskriminasi etnis yang dilakukan oleh mayoritas buddhist Myanmar.

Kaum Buddhist Myanmar enggan mengakui kewarganegaraan muslim Rohingya. Padahal, sejak awal 1950-an Rohingya telah menempati sebuah wilayah di Rakhine. Presiden Arakan Rohingya National Organisation (ARNO), Nurul Islam, mengatakan Rohingya telah tinggal sejak dahulu kala. Mereka merupakan orang-orang dengan budaya dan peradaban yang berbeda-beda.

Jika ditelusuri, nenek moyang merka berasal dari orang Arab, Moor, Pathan, Moghul, Bengali, dan beberapa orang Indo-Mongoloid. Permukiman Muslim di Arakan telah ada sejak abad ke-7 Masehi.

BACA JUGA :   Non Muslim Berkerudung Sukarela, Kok Intoleransi?

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co