,

Uighur Memanggil, Negara Pura-Pura Tuli

Penulis : Fina Restiar

Telah ramai diperbincangkan di seluruh pelosok dunia tentang salah satu suku yang berpenduduk minoritas muslim di Xinjiang, China. Mereka adalah etnis Uighiur, yang kini menambah daftar kelam nasib kaum muslimin di negeri berpenduduk minoritas muslim menyusul Suriah, Palestina, India, dan sederet negeri-negeri berpenduduk minoritas Muslim lainnya.

Masih jelas dalam ingatan, bagaimana kebiadapan Rezim Anti Islam laknatullah pada mereka. Mereka disiksa, di bunuh, di usir, wilayah mereka diporak-porandakan, tubuh mereka di kuliti tanpa belas kasih, wanita-wanita di perkosa, hanya karena satu alasan. Hanya karena mereka Muslim. Karena mereka berpegang teguh pada ‘Akidah Islam’.

Yang terbaru di Xinjiang, China. Para orang tua dipaksa masuk ke kamp-kamp ‘re education’ (baca : pendidikan ulang) dimana mereka di paksa untuk melupakan identitas mereka dan di haruskan untuk mencela Islam. Anak-anak yang masih polos di masukkan ke panti asuhan. Disana mereka pun di cuci otaknya agar melupakan jati dirinya sebagai seorang muslim/muslimah. Termasuk dilarang untuk shalat, dilarang belajar Al-Quran, berpuasa, dan memberikan nama-nama berbau Islam kepada anak-anak yang baru lahir. (Hidayatullah.com, 16/09/2018)

Menurut pengakuan dari beberapa orang warga yang berhasil melarikan diri, mengatakan bahwa penyiksaan yang diterima mereka sungguh sangat tragis. Mereka diperlakukan seperti binatang, disiksa, tidak diberi makan ataupun minum dan terus menerus di paksa untuk menghina agamanya (Islam).

Adalah Omir Bekli (42), seorang warga Kazakhstan yang lahir di Xinjiang sejak 2006, ditahan selama enam bulan pada Maret tahun lalu setelah secara paksa diambil dari rumah orang tuanya di Shanshan — 180 mil timur Urumqi, Ibu Kota Xinjiang — kepalanya ditutupi dalam karung hitam sebelum dibawa aparat pergi.

BACA JUGA :   Derita Uighur, Sampai Kapan?

“Metode penyiksaan itu sangat tidak manusiawi dan sangat tak tertahankan,” kata Bekli kepada The Epoch Times. Etnis Uighur “dirantai seperti binatang,” dicabut makanan dan tidur, dan dipukuli sampai tubuh mereka “bengkak dan menuangkan darah.”

“Mereka membuat Anda takut dan membuat Anda lemah, secara fisik dan mental, sehingga mereka dapat membuat Anda mematuhinya,” ujar Bekli menjelaskan.

Seorang tahanan Uighur lainnya — seorang warga negara Kazakhstan berusia 54 tahun yang dibebaskan September dari sebuah kamp di Urumqi setelah ditahan selama 15 bulan — mengatakan kepada The Epoch Times bahwa para wanita muda Uighur diperkosa setiap hari oleh para pejabat PKC di kamp-kamp dan dapat dibunuh jika mereka menolak. Pria berusia 54 tahun itu berbicara dengan syarat disembunyikan identitasnya dari Istanbul karena khawatir akan keselamatannya.

” Gadis-gadis muda dibawa keluar dan diperkosa sepanjang malam. Jika Anda terus melawan, mereka akan menyuntik Anda dengan sesuatu dan membunuh Anda, ”katanya.

“Biasanya ada 40 hingga 50 orang di satu ruangan kecil, tetapi lima sampai 10 secara teratur dikeluarkan dan mereka menghilang begitu saja – mereka tidak pernah kembali. Puluhan orang terbunuh sepanjang waktu. ” (Hidayatullah.com, 10/10/2018)

– Akibat Paham Nasionalisme –

Sejak runtuhnya daulah Khilafah di tangan Mustafa Kemal Ataturk laknatullah pada tanngal 3 Maret 1924, kaum muslimin terpecah-belah menjadi negara-negara yang kecil. Terkotak-kotak dengam Bendera yang berbeda dan hanya cinta pada tanah kelahiran dan masyarakat sebangsanya saja.

Masyarakat yang berada diluar wilayahnya, di luar negaranya dianggap bukan saudara dan apapun yang terjadi pada mereka adalah urusan mereka dan bangsa lain tidak perlu menghabiskan tenaga, waktu, pikiran,  apa lagi biaya untuk membantu mereka.

BACA JUGA :   Khilafah Islamiyah, Solusi Tuntas Untuk Uighur

Hal ini terlihat jelas dalam beberapa kasus yang menimpa kaum muslimin di belahan negara lain. Di negeri berpenduduk minor, mereka ‘menjerit’ kesakitan, ‘berteriak’ meminta pertolongan, namun tak ada yang mendengar. Tidak begitu banyak yang peduli.

Padahal Rasulullah saw telah bersabda yang artinya :

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Namun, karena sekat-sekat negara dan paham Nasionalisme, kaum muslimin seolah acuh dan masa bodoh dengan penderitaan saudaranya. Saudara seakidah. Dimana kita dipersatukan karena akidah yang satu, tuhan yang satu dan suri tauladan yang satu.

Ditambah lagi dengan utang luar negeri yang ‘melangit’ sehingga menyebabkan pemerintah dalam hal ini adalah negara enggan untuk angkat suara.

-Khilafah, Solusi Tuntas kejahatan Genosida-

Semua orang tentu bertanya-tanya, ada apa dengan kaum muslimin di negeri minoritas? Sungguh, ‘aksi brutal’ yang dilakukan oleh para pembenci islam laknatullah adalah sebagai perwujudan dari ketakutan yang nyata akan kembali tegaknya ‘Diinul Haq’ ini. Betapa tidak, pembunuhan massal, pembantaian, pencucian otak hanyalah satu dari ribuan cara yang akan dilakukan untuk ‘menghabisi’ nyawa kaum muslimin. Kenapa? Tidak lain adalah agar jumlah kaum muslimin semakin menipis dan dan pada akhirnya punah.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi” .    (QS. Al-Anfal [8] : 36-37)

BACA JUGA :   Soal Pilkada di Butur, Abu Hasan Masih Fokus Membangun Butur

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”.  (QS. At-Taubah [9] : 32).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seolah bungkam terhadap apa yang terjadi. Pemimpin-pemimpin kaum muslimin terkhusus di negera mayoritas muslim (Indonesia) tetiba diam seribu bahasa seolah tak ada yang terjadi. Jagankan “bantuan real’ yang diberikan seperti mengirim Tentara Militer ke negara malang itu, sekadar memberikan ‘kecaman’ saja tak pernah terdengar.

Tidakkah kita rindu pada sosok pemimpin (Khalifah) yang benar-benar peduli pada nasib kaum muslimin? Tidakkah kita rindu pada sosok pemimpin seperti khalifah al-Mu’tasim Billah? Yang ketika itu 3000 pasukkkan dikerahkan untuk membela kehormatan ‘seorang’ wanita yang disingkap jilbabnya oleh salah seorang tentara Romawi?

Sungguh, pemimpin seperti halnya khalifah al-Mu’tasim Billah hanya ada ketika ‘Khilafah’ tegak di muka bumi. Dimana, dengan tegaknya negara Islam (Khilafah) itu, kejahatan Genosida terhadap saudara kita akan lenyap. Kaum muslimin akan menemukan lagi ‘perisainya’.

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai (junnah); orang-orang berperang mengikutinya dan berlindung dengannya” (HR al-Bukhari dan Muslim). Wallahu A’lam Bisawwab (***)


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co