Uighur Menjerit: Dimana Negeri-Negeri Muslim ?

Ketgam : Ilustrasi Uighur
Ketgam : Ilustrasi Uighur
Ketgam : Ilustrasi Uighur/foto : Ist

Oleh: Sitti Sarni, S.P(Founder Komunitas Pejuang Islam)

OPINI : Jeritan uighur telah menghiasi media sosial. Penyiksaan atas mereka membuat kaum muslim lainnya geram bahkan marah. Pemerintahan Jokowidodo sampai hari ini ogah menyuarakan protes seperti yang dilansir Eramuslim.com. Kemudahan utang luar negeri Indonesia kepada China diduga membuat pemeritahan Presiden Joko Widodo ogah menyuarakan protes atas kasus dugaan pelanggaran HAM  yang terjadi pada kelompok muslim Uighur di Xinjiang, China.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) Syafti Hidayat menduga, hubungan kedekatan antara kedua pemerintahan RI-China saat ini yang membuat Jokowi enggan melakukan protes.“Karena kedekatan pemerintah Jokowi dengan China. Jokowi tak mau hubungannya terganggu dengan China gara-gara kelompok muslim Uighur,” ucapnya saat berbincang dengan redaksi, Jumat (14/12).

Campakkan Nasionalisme

Nasionalisme adalah ikatan yang muncul karena seseorang tinggal di tempat yang sama dan merasakan adanya ancaman bersama, maka wajar bila ikatan nasionalisme ini selalu memerlukan ancaman demi ancaman agar tetap kuat ikatannya, dan akan melemah begitu penduduknya merasa aman, dan ikatan ini sangatlah lemah karena berdasarkan kesamaan tempat dan ancaman, ikatan reaktif dan temporer bukan ikatan yang produktif dan selamanya.Apakah ikatan ini bisa menyatukan umat seluruh dunia?  Tentu tidak.Dalam Islam, segala sesuatu termasuk ikatan antarmanusia haruslah berdasarkan Allah dan Rasul-Nya, Kitabullah dan Sunnah, dan ikatan penyatu antarmanusia yang paling pas adalah ukhuwah Islam, karena kemunculannya dari aqidah, menyatukan orang-orang yang beriman sekaligus memberikan perlindungan dan keamanan bagi yang tidak memeluk aqidah Islam.

Bila kita masih ngotot dengan nasionalisme, lalu bagaimana kita memandang Malaysia, uighur, Palestina, Turki, dan negeri-negeri Muslim yang lainnya? Bila dengan pandangan nasionalisme, maka bukan urusan kita membantu uighur. Namun dalam pandangan ukhuwah, mereka adalah saudara yang harus dibela, dipersatukan, satu perjuangan dan satu tumpah darah.Selanjutnya, nasionalisme secara sejarah telah terbukti mampu memecah belah persatuan Islam dan mengakibatkan perseteruan dan pemusuhan diantara kaum Muslim yang tadinya disatukan dengan ukhuwah Islam. Dan itulah faktanya ketika kaum-kaum Arab disatukan dengan ikatan nasionalisme lalu memisahkan diri dengan Khilafah Utsmani, begitu pula puluhan negeri-negeri Muslim yang lain yang diberikan kemerdekaan.Apakah kita masih berharap pada ikatan nasionalisme ? Dimana negeri-negeri muslim lainya, pada saat saudara muslim uighur menjerit ?Kepada siapakah mereka meminta pertolongan ? Hanya dengan mencampakkan nasionalisme dan kembali pada ikatan aqidah lah kita bisa dipersatukan.

BACA JUGA :   Anak Dibawa Umur, Tak  Dibolehkan Bekerja di Kebun Kakao

Tauhid, Persatuan Umat

Persatuan umat Islam bukanlah didasari atas kepentingan politik, tidak pula didasari atas manfaat duniawi, tidak pula berdasarkan batas wilayah bangsa ataupun negara. Tapi persatuan Islam haruslah berdasarkan kalimat tauhid, kalimat lailahaillallah, yang menjadi simbol keislaman dan simbol kepatuhan terhadap Zat Pencipta dan Pengatur alam semesta. Islam menjadikan tali Allah sebagai perekat utama dalam membangun persatuan. Bukan tali kebangsaan. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersatu, maka jelas yang dikehendaki adalah persatuan atas ikatan yang hakiki. Ikatan yang tidak memandang perbedaan apapun selain iman dan taqwa. Karenanya, kita selalu diperintahkan untuk bersatu dengan memegang erat tali Allah, yaitu bersandar kepada prinsip kesatuan dalam memenangkan syariat Islam. Rasanya percuma jika ada slogan persatuan umat Islam bilamana bersatu kepada selain tali Allah alias bersandar kepada selain syariat Islam. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوابِحَبْلِاللَّهِجَمِيعًاوَلَاتَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali-Imran; 103)

Saat pertama kali tiba di kota Madinah, Rasulullah SAW langsung mempersatukan kaum muslimin dengan ikatan iman. Beliau berhasil mempersaudarakan, dua suku besar (suku Aus dan Khazraj) yang sebelumnya saling bermusuhan dalam waktu yang cukup lama. Ikatan persudaraan yang terbangun di antara mereka diabadikan oleh Allah salam firman-Nya:

وَاذْكُرُوانِعْمَتَاللَّهِعَلَيْكُمْإِذْكُنْتُمْأَعْدَاءًفَأَلَّفَبَيْنَقُلُوبِكُمْفَأَصْبَحْتُمْبِنِعْمَتِهِإِخْوَانًا

“…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;..” (QS. Ali-Imran: 103)

Dengan ikatan iman, Rasulullah saw berhasil mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin layaknya saudara kandung sendiri. Mereka berbeda suku dan bangsa tapi mereka saling mencintai satu sama lain. Kaum Anshar sebagai pribumi di kota Madinah rela berkorban demi mengutamakan (itsar) terhadap kaum muhajirin yang datang dari Makkah. Sungguh persaudaraan yang sulit dicari badingannya hingga sekarang. Allah ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

BACA JUGA :   Pengabaian Negara-negara Muslim Terhadap Muslim Uighur Sungguh Kejam

Demikianlah bentuk ikatan persaudaraan yang diharapkan dalam Islam. Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman. Tidak ada hal yang membeda-bedakan selain ketaqwaan semata. Walaupun kabilahnya berbeda, bahasanya tak sama, warna kulit beragam rupa, tapi mereka bersaudara dalam ikatan Islam, “Semua orang mukmin adalah bersaudara,” Rasulullah mempersatukan hati mereka dengan ikatan iman tanpa memandang perbedaan apapun juga. Sungguh sebuah ikatan yang tidak mampu ditandingi oleh ikatan apapun juga.

We Need Khilafah

Penyelesaian tuntas masalah Uighur tidak lain adalah dengan mewujudkan kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam. Itulah Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafahlah, sebagai satu-satunya pelindung umat yang hakiki, yang akan melancarkan jihad terhadap siapa saja yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Tentu dengan kekuatan jihad pula Khilafah akan sanggup mengusir para penjajah dan musuh-musuh Islam. Dengan membaca QS al-Isra’ [17]: 4-8, kita bisa memahami bahwa Yahudi hanya dapat dikalahkan dengan “hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar”.

Kekuatan besar itulah Khilafah. Dengan Khilafahlah  para penjajah pasti bisa dikalahkan.Jadi benarlah solusi tuntas hanya Khilafah Islamiyahlah yang dapat menyelesaikan masalah Uighur ini dan juga masalah kaum Muslim lainnya sampai ke akar-akarnya. Oleh karena itu, wahai kaum Muslim, kita harus berupaya menyelesaikan masalahUighur ini sampai ke akar-akarnya. Untuk itu, Allah mewajibkan kita untuk menegakkan Khilafah Islamiyah. Upaya kita menegakkan Khilafah Islamiyah adalah upaya kita menyelesaikan seluruh masalah kaum Muslim sejak dari akarnya sekaligus sebagai jawaban kita atas seruan Allah dan Rasulnya. Maukah kita menjadi bagian orang-orang yang menjawab dan menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya?Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian (QS al-Anfâl [8]: 24).Wallahu A’lam. (***)

BACA JUGA :   Kasus Uighur , Negara Lemah Tak Berdaya

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co