,

Uighur Merana,Dimana Posisi Indonesia?

Oleh: Yuni Damayanti

(Pemerhati Sosial)

OPINI : Dilansir dari Hidayatullah.com, lebih dari 1 juta tahanan yang kebanyakan etnis Uighur terus ditahan ditempat (yang oleh Cina) disebut”KAMP Pendidikan Ulang” di Cina barat.Keadaan ini sudah berlangsung sejak tahun 2017 lalu.

Menurut Kepala Komisi Eksekutif Kongres Cina (CECC), dikutip The Epoch Times, Pejabat Partai komunis Cina (PKC) mengatakan penahanan massal dikalangan penduduk Uighur, yang mayoritas beragamaIslam adalah bagian dari langkah-langkah yang menurutnya menindak terorisme, ekstrimisme agama, dan separatisme dinegara itu. PKC telah menggunakan alasan potensi “ancaman ekstrim” untuk membenarkan pengawasan ketat dan penindasan terhadap etnis Uighur dan kelompok minoritas muslim lainya di wilayah Xinjiang.

Sejak april 2017, pemerintah Cina sudah menangkap setidaknya 800 ribu orang dan memasukkan kemungkinan dua juta masyarakat Uighur kedalam kamp yang mereka sebut sebagai “kamp re-edukasi”. Pemerintah Cina sebelumnya membantahkeberadaan kamp tersebut.Namun, sekaraang mereka melegalisasinya dan mengatakan kamp tersebut sebagai pusat pelatihan melawan ekstrimisme (Republika.co.id, 13/12/2018).

Penindasan ini jelas mengusik ukhuwah sesama saudara seakidah, tak terkecuali negara-negara yang mayoritas muslim penduduknya. Sayangnya, Indonesia yang notabene sebagi negara berpenduduk muslim terbesar didunia masih belum menentukan  sikap  terhadap penindasan muslim Uighur.

Menurut Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem), Syafti Hidayat, ada beberapa faktor yang menyebabkan pemerintah belum bersuara soal muslim Uighur. Salah satunya adalah karena kedekatan pemerintah Joko Widodo dengan Cina. Jokowi tidak mau hubunganya terganggu dengan Cina gara-gara kelompok muslim Uighur (Eramuslim.com,14/12/2018).

Menjelang pilpres tahun 2019, Jokowi tidak mau ikut ambil pusing dengan urusan muslim Uighur. Terlebih lagi, selama empat tahun belakangan ini utang luar negeri Indonesia terhadap Cina jumlahnya cukup besar.

BACA JUGA :   Pengabaian Negara-negara Muslim Terhadap Muslim Uighur Sungguh Kejam

Ya, kezaliman terhadap muslim Uighur melengkapi berbagai kezaliman yang terjadi diberbagai negeri muslim.Mengapa saat ini kaum muslim diseluruh dunia cenderung diam?Padahal mereka dengan nyata melihat penindasan yang dialami saudara-saudaranya. Indonesiasendiri terkesan enggan melakukan pembelaan kepada kaummuslim dibelahan bumi lain. Hal ini terjadi, tidaklepas, karena keberhasilan penjajahan barat terhadap negeri-negeri muslim dalam menyebarkan paham Nasionalisme.

Padahal, nasionalisme atau konsep negara bangsa menikung umat Islamdunia dan penguasanya, termasuk indonesia, dariaksi nyata membantu saudara seakidah. Keberadaan penduduk muslim dunia, tentara, dan senjata mereka yang banyak tak  berguna untuk membebaskan  kaum muslim. Hal disebabkankarena terhalang sekat wilayah.

Padahal Rasulullah SAW telah mengajarkan agar umatnya saling tolong-menolong ketika menyaksikan kesusahan yang dialami saudaranya, “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya,maka Allah akan memperhatikan kebutuhanya. Barang siapa melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitanya dihari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahanya kelak dihari kiamat (HR Buhari no 2442).

Jika melihat sejarah dimasa keemasan Islam pada tahun 837M zaman Kekhilafahaan Abu Ishaq’ Abbas Al Mu’Tasim Ibn Harun Ar Rasyid (795-842M), akrab disapa Al Mu’tasim billah pada massa dinasti abbasiyah. Ketika itu ada seorang wanita muslimah yang diganggu oleh orang Romawi, dengan mengaitkan pakaian wanita itu pada sesuatu sehingga saat wanita itu bergerak tersingkaplah auratnya.

Tak tahan dengan pelecehan tersebut wanita itu kemudian berteriak memanggil sang khalifah, setelah berita itu sampai kepada sang khalifah, beliau mengirimkan beribu-ribu pasukan yang bagian depan pasukan itu sudah sampai di Amuriah tempat dimana wanita muslimah itu dilecehkan, sedangkan pasukan yang ada dibelakang masih diperbatasan kota baghdad tempat dimana pusat pemerintahan Islam saat itu. Sebegitu seriusnya Khalifah Al Mu’tsim dalam melindungi kehormatan seorang wanita dan kehormatan Islam.Lantas, bagaimana dengan penguasa sekarang?

BACA JUGA :   Uighur Menjerit: Dimana Negeri-Negeri Muslim ?

Dengan demikian, saatnya umat Islam bangkit untuk memperjuangkan kembalinya sistem pemerintahan Islam. Karena tegaknya hukum Allah melalui institusi Khilafah merupakan satu-satunya yang mampu menghapuskan sekat nasionalisme dimuka bumi. Umat membutuhkan perisaidan pelindung untuk melawaan rezim zalim dengan menyatukan seluruh potensi yang dimiliki dibawah satu kekuatan politik dan komando.Wallahu a’lam bisshawab. (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co