Ulama Dalam Pusaran Politik Pragmatis

OPINI : Dikutip dari Wikipedia.org, politisasi agama diartikan sebagai tindakan manipulasi pemahaman dan pengetahuan keagamaan/kepercayaan melalui propaganda, indoktrinasi, kampanye, sosialisasi dan wilayah publik, diinterpretaskan agar terjadi migrasi pemahaman, dan menjadikan seolah-olah merupakan pengetahuan keagamaan/kepercayaan. Dengan masuknya sosok ulama justru menjadi pelegitimasi kebatilan.

Sikap seorang ulama seharusnya menjaga jarak dengan rezim yang mengambil sistem selain Islam.

Dalam riwayat ath-Thabarani dan ad-Dailami, Nabi saw. menyatakan, “Janganlah kalian mendekati pintu penguasa karena ia benar-benar menjadi berat dan menghinakan.”
Posisi ulama dalam kehidupan sehari-hari sangat urgen sekali.

Saking urgennya, sebagian masyarakat berdalih bahwa segala sesuatu harus didasarkan pada fatwa atau hasil keputusan para ulama. Keputusan ulama itu dianggap sebagai keputusan yang bijak dan berlandaskan nilai-nilai agama, sehingga layak dijadikan sebagai landasan dalam mengerjakan segala sesuatu.

Namun sayangnya, kini ulama adalah mahluk langka. Dari yang langka ini, lebih banyak yang lemah dan tidak mampu memimpin umat keluar dari keterpurukannya. Bahkan mereka menjadi bagian dari sistem yang menindas umat (pragmatisme). Hal ini nampak dari realita umat yang makin merosot agama dan moralitasnya.

Kapitalisme, Akar Masalahnya
Faktor-faktor apakah yang membuat ulama menjadi lemah? Secara umum ada tiga “jebakan” untuk memperlemah ulama. Pertama: jebakan pemikiran yang terjadi pada dirinya sendiri. Pemikiran yang dimaksud adalah sekulerisasi secara halus. Pahit untuk diakui, ulama kita banyak yang canggung berbicara masalah publik dari sisi Islam. Mereka membatasi diri untuk berbicara hanya saat ada persoalan moral seperti pornografi, miras, perjudian, dll.

Mereka juga hanya peka pada gerakan sesat (Ahmadiyah, shalat dwibahasa, dsb). Namun, mereka canggung ketika membahas pengaturan sumber daya alam menurut Islam atau mengatasi krisis ekonomi sesuai syariah. Seolah-olah Islam tidak mempunyai solusi lengkap.

BACA JUGA :   Banjir Tak Pengaruhi Ketersediaan Pangan Konawe

Kedua: jebakan kultural yang “disiapkan” masyarakat. Jebakan ini dapat memaksa ulama yang semula kuat karena ikhlas, menjadi lemah karena bias. Ulama dimitoskan dengan segala idealitas dalam pandangan masyarakat awam, bukan pandangan syariah. Saat ulama melakukan hal-hal yang diopinikan negatif dikalangan masyarakat (misalnya poligami), gelar “orang suci” tiba-tiba lenyap. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa “ulama juga manusia”.

Ketiga: jebakan sistem. Sejarah terus berulang. Para penguasa korup agen penjajah zaman manapun selalu melihat para ulama sebagai penghalang tujuan mereka. Karenanya, penguasa semacam ini akan berupaya melemahkan para ulama. Ulama terus dipojokkan untuk sekedar bertahan hidup dalam sistem sekuler.

Islam hanya untuk ranah pribadi. Akibatnya, ulama akhirnya diam ketika penguasa mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan publik. Seperti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan pajak yang makin menindas rakyat. Dakwah pun tidak lagi untuk kepentingan umat, namun “yang penting aman”.

Ulama Dalam Pandangan Islam

Ulama adalah pewaris para nabi dan paling takut kepada Allah SWT. Tugas ulama yaitu melakukan aktivitas amal makruf nahi mungkar disamping itu tugas ulama ,menjadi kontrol penguasa.

Seperti yang di gambarkan oleh Imam Al-Ghazali “Demikianlah perjalan hidup para ulama serta kebiasaan mereka dalam melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar tanpa memperdulikan kerasnya para penguasa. Sebab mereka bertawakal kepada Allah yang dengan karunia-Nya akan menjaga mereka. Mereka pun rela terhadap ketetapan Allah jika suatu saat mengaruniai mereka mati syahid.

Sebab niat mereka yang ikhlas dan tutur kata mereka menjadi berpengaruh di hati yang keras hingga membuatnya lunak adapun sekarang ketamakan (terhadap dunia) telah menjerat lisan-lisan mereka hingga mereka terdiam (dari amal makruf nahi mungkar). Kalaupun mereka berkata-kata, hal itu tidak berpengaruh pada kondisi mereka dan mereka mengalami kegagalan.”

BACA JUGA :   KALOSARA SEBAGAI INSTRUMEN UTAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA SUKU TOLAKI DI SULAWESI TENGGARA

Islam dan kekuasaan tidak dapat dipisahkan,Islam tidak mengenal istilah pemisahan agama dari kehidupan. Lalu bagaimana bisa keberadaan ulama dalam pemilu memberikan perubahan? Sementara saat ini, paham sekularisme yang diterapkan padahal sudah jelas bahwa paham Sekularisme dan Islam sangat bertentangan.

Alangkah ironis jika hari ini kita masih sering menjumpai orang-orang yang mengaku ulama. Namun, mereka menjual agamanya kepada penguasa demi kecintaan terhadap harta dan kedudukan. Hal tersebut telah digambarkan Imam al-Ghazali bahwa “Rusaknya rakyat itu disebabkan oleh rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa disebabkan oleh rusaknya ulama. Rusaknya ulama itu disebabkan oleh kecintaan mereka atas dunia dan kedudukan.

Walhasil, ulama sebenarnya adalah yang membimbing umat dengan ilmu dan hikmah. Mengajak umat kepada kemuliaan hidup dunia akhirat. Memperingatkan umat dari sebab kehancuran dan kesengsaraan. Tidak menutupi kebenaran karena bujuk rayu duniawi. Tidak tunduk kepada penguasa zalim yang merayu atau memaksa mereka merubah syariat. Tidak membenarkan kebatilan dan kejahatan para penguasa. Mereka tidak takut kecuai hanya kepada Allah. Rasa takutnya kepada Allah memengalahkan ancaman, teror, dan intimidasi dari siapa saja. Wallahu A’lam.(***)

 

Oleh : Lisa Aisyah Ashar

(Mahasiswi FTI USN dan Aktivis BMI Kolaka)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co