Ulama dan Aktivitas Politik

OPINI : Berbicara mengenai politik saat ini, kita tidak bisa melepaskan diri dari definisi politik itu sendiri. Ulama turut andil di dalamnya. Pun, ideologi dan pemikiran yang mengitarinya.

Seperti yang tercetus pada Ijtima Ulama II yang secara resmi menyatakan dukungan kepada pasangan bakal calon Presiden-Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal itu ditandai dengan penandatanganan pakta integritas oleh mantan Danjen Kopassus tersebut.

Prabowo tiba sekitar pukul 13.00 WIB saat sidang pleno Ijtima Ulama II masih berlangsung, Ahad (16/9), dan menandatangani pakta integritas tersebut sekitar pukul 14.30 WIB. (Republika.com, 06/09/2018).

Adapun pasangan dari kubu petahana mendapat dukungan dari ratusan kiai dan pengurus pondok pesantren (ponpes). Mereka sepakat mendukung bakal capres-cawapres Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 (Antaranews.com, 15/09/2018).

Disebutkan, sebanyak 400 kiai dan pengasuh ponpes yang berasal dari seluruh Indonesia itu menggelar acara silahturahmi di Ponpes Asshiddiqkiyah, Kedoya, Jakarta Barat.

Peran ulama dalam politik untuk mencerdaskan umat itu sangat penting. Ternyata, mendukug calon pemimpin yang jelas tidak memakai peraturan Allah Swt. Padahal sudah jelas, dalam kehidupan kita minim akan beberapa hal.

Minimnya air bersih, bahan bakar minyak (BBM), dan lain lain. Itu berasal dari yang dipilih tadi, yang seharusnya bisa mensejahterakan masyarakatnya, malah itu semua tak terjadi. Tetapi itu semua malah dianggap remeh oleh penguasa, sesuatu yang dianggap remeh itu padahal akan berakibat fatal.

Walaupun itu hanya perkara memilih, sesungguhnya memilih itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Bahwasanya orang yang kalian pilih, sudah benar-benar menjadi pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya dengan baik atau tidak. Jika tidak maka orang yang akan memilih ini akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah dipilihnya di dunia. Sungguh miris orang-orang yang seperti demikian.

BACA JUGA :   Miliki Bukti Dugaan Pungli di Dinas ESDM Sultra,Forsemesta Akan Adukan ke KPK dan Mabes Polri

Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari-hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Begitupun dalam ayat Alquran yang mengatakan bahwasanya jika pemimpin tidak berhukum dengan aturan Allah, maka jangan bantu mereka untuk menjadi pemimpin (memilih).

“Hendaklah Engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut hukum yang diturunkan Allah, janganlah Engkau mengikuti keinginan mereka, dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdaya Engkau dalam sebagian hukum yang telah diturunkan Allah kepadamu. Lalu jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allh berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan?! Tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini” (QS. Al-Ma’idah 49-50).

Oleh karena itu, ketika Allah menjelaskan kufurnya orang yang tidak berhukum dengan syari’at Islam, Allah memperingatkan untuk tidak membantu mereka atau menjadikan mereka pemimpin, dan Allah juga memerintahkan kaum muslim untuk bertakwa bila mereka muslim sejati.

Lagipula ulama bukan alat untuk melegitimasi kepentingan penguasa atau kelompok tertentu. Ia harus netral, bahkan ialah yang harus berteriak lantang menolak sistem kufur berlangsung. Sekalipun nanti ulama yang menjadi pendamping calon presiden terpilih, tetap tak ada kemaslahatan di dalamnya jika tidak ada satupun hukum syara yang diterapkan. Karena memang maslahat adalah hasil dari keadaan ketika hukum syara diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Tidak sebagian-sebagian.

Terlebih kemudian jika saat ini ada ulama yang “pindah kubu” beralih membela mereka yang jelas-jelas akan meninggalkan syariat Allah, adalah satu dosa besar. Sebagaimana pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, ketika muncul nabi palsu Musailamah Al Khadzab. Jangan Sampai Menjadi Ar-Rajjal Bin Unfuwah.

BACA JUGA :   Matangkan Persiapan Rakernas , IMI Sultra Lakukan Rapat Koordinasi

Pada awalnya, Ar-Rajjal bin Unfuwah mendapat tugas untuk mengajar penduduk Yamamah akan sesatnya Musailamah, menentang Musailamah dan menggagalkan usaha Musailamah untuk diakui menjadi nabi disamping Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, di tengah jalan, Ar-Rajjal bin Unfuwah terpengaruh dan lalai dari tugasnya.

Karena Ulama adalah pewaris para nabi, sehingga dari merekalah sebenarnya umat dicerdaskan tentang politik Islam. Agar umat mampu memahami persoalan yang membelit mereka. Ulama akan berada di garda terdepan ketika syariat Islam tidak lagi menjadi hukum positif di negeri ini. Karena merekalah pewaris para nabi, sehingga apa-apa yang dibawa oleh para nabi tidak boleh ada satu pun yang tertinggal untuk diajarkan kepada umat, yaitu tauhid.

Jadi hari ini kita berada dalam cengkeraman sistem yang liberal dan kapitalistik, yang jelas-jelas diemban oleh musuh-musuh Islam. Maka tugas ulama lah menjadikan kaum muslim paham dan kemudian beralih menjadi amalan berjuang mengembalikan kejayaan Islam. Wallahu a’ lam biashowab.

 

Oleh: Septiya Eka Rahayu
(Muslimah Media Konawe)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co