Urgensi Penegakkan Khilafah: Nusantara dan Dunia

#Hamsina Halisi Alfatih,
#Hamsina Halisi Alfatih,

Oleh: Hamsina Halisi Alfatih


Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Kurang lebih 14 abad lamanya khilafah mampu melebarkan sayapnya hingga menguasai hampir 2/3 dunia. Dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW saat mendirikan negara Islam di Madinah kemudian dilanjutkan oleh para Sahabat hingga ke generasi setelahnya sistem Islam ini mampu mencetak para pejuang tangguh hingga para ilmuwan muslim yang kehebatannya tidak diragukan lagi.

Tak hanya itu, jaminan atas kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya begitu efektif dijalankan hingga tidak satu pun terdengar adanya kesengsaraan atau kemiskinan saat itu. Maka siapa yang paling berperan dalam hal ini tentu adalah seorang pemimpin atau Khalifah. Karena pemimpin itulah yang esensinya adalah melaksanakan pelayanan terhadap urusan umat secara langsung.

Kita tentu bisa melihat bagaimana gaya kepemimpinan Khalifah Sayyidinah Umar Bin Al Khattab ketika mendengar ada seorang wanita tua bersama anaknya yang kelaparan di tengah malam. Seketika itu Umar Ra sendiri memikul gandum dan mengantarkannya ke rumah wanita tua tersebut. Selama Umar Ra memimpin pemerintahan, ia sangat memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Ia selalu mendengarkan keluhan dan protes rakyatnya, jalan ke pasar, keliling mengontrol rakyatnya di jalan, bahkan sering dengan menyamar sebagai rakyat biasa, sebab sulit membedakan antara penampilan dirinya dengan rakyat biasa jika tidak pernah mengenalnya.

Tak hanya itu saja, dimasa kekhilafahan Turki Utsmani sebagai sebuah kerajaan paling besar pada masanya dan kekuatan ekonomi yang sangat kuat, pada masa kekhilafahan Utsmaniyah mempunyai banyak potensi-potensi yang menjadi penunjang pendapatan Negara.

Di bidang Pertanian perekonomian Turki Ustmani sangatlah maju, apalagi negara ini mempunyai lahan yang subur untuk bercocok tanam, rata-rata sumber penghasilan warganya berasal dari usaha keluarga berskala kecil di bidang pertanian, dan pajak sektor pertanian ini berkontribusi 40% bagi sumber pendapatan pajak negara. Daerah yang menjadi sumber pertanian Ustmani kebanyakan di daerah pegunungan seperti di Anatolia, yang saat itu wilayahnya di provinsi Syria.

Melihat kesuksesan dari setiap gaya kepemimpinan para khalifah dimasanya, maka kita bisa menyimpulkan bahwa syariah dan khilafah bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Islam dengan syariah dan khilafahnya bukanlah musuh negeri ini  melainkan musuh dari bangsa ini adalah kapitalisme-liberalisme. Sistem inilah yang secara nyata telah menghancurkan dan memorak-porandakan kehidupan kaum muslim.

Setelah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1924, wilayah Islam yang semula terbentang sangat luas mulai dari seluruh wilayah Jazirah Arab hingga Afrika Utara bahkan sebagian Eropa hingga di semenanjung Balkan, sebagian Asia mulai dari Asia Timur, tengah, dan Timur kini telah dikuasai oleh penjajahan Barat. Dan kini wilayah-wilayah tersebut terpetak-petak akibat adanya nasionalisme.

Dari sini pula, umat Islam mulai mengalami keracunan pemikiran Barat sehingga umat Islam saat ini begitu gampang dijauhkan dari ajaran Islam. Bahkan setelah runtuhnya Daulah Turki Utsmani, umat Islam secara bertubi-tubi didera berbagai persoalan seperti yang kita saksikan hingga saat ini.

Penderitaan kaum muslim di berbagai negeri-negeri Islam, bisa kita saksikan bagaimana kondisi saudara kita kaum muslim di Bosnia yang seakan melengkapi penderitaan kaum muslim di Palestina, Suriah, Afganistan, Rohingya dan lainnya. Terlepas dari itu, hal ini pun sama halnya menggambarkan kondisi tanah air Indonesia saat ini yang dirundung kemiskinan, kebodohan, penggusuran, Ketimpangan ketidakadilan, kriminalitas, pornografi dan sebagainya semakin menegaskan bahwa umat Islam tengah mengalami kemunduran.

Semua berpangkal dari ketiadaannya kehidupan Islam. Karenanya, menegakkan kembali kehidupan Islam melalui Khilafah Islamiyyah dimana didalamnya diterapkan hukum-hukum Allah. Menurut Abdul Qadim Zallum dalam kitab Manhaj, sebagai al-qadhiatu al-muslimin al -mashiriyah (problematika utama umat). Diyakini,  hanya melalui jalan itu saja segenap problematika kontemporer dapat diatasi dengan cara dan jalan yang jelas serta kemuliaan Islam dan umatnya ( izzu al-islam wa al-muslimin) dapat diraih kembali.

Darurat permasalahan umat yang begitu banyak saat ini, tentu tak bisa kita pandang sebelah mata dan menutup telinga. Hal ini haruslah menjadi titik bangkit umat untuk mencampakkan kapitalisme-liberal yang menjadi pangkal hancurnya tatanan kehidupan umat.

Hal ini pula, yang menjadi urgensi bahwa pentingnya menegakkan syariat dan khilafah sebagai ujung tombak penyelesaian segala permasalahan umat. Mulai dari permasalahan ekonomi, politik, sistem peradilan, pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya.

Karena itu keberadaan khilafah sangat vital dan merupakan perkara bagian dari ajaran Islam yang urgen. Saking urgennya, Imam Aku Ghazali menganalogikan : Agama dan kekuasaan (khilafah) adalah ibarat dua saudara kembar. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan (khilafah) adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak mempunyai pondasi pasti akan runtuh. Sesuatu yang tidak mempunyai penjaga pasti akan hilang.

Maka dengan demikian, untuk mewujudkan kehidupan Islam agar terjaganya kaum Muslim seluruh dunia adalah dengan menerapkan/menegakkan syari’ah dan khilafah. Demikian pula ini merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk mendakwahkan serta memperjuangkannya. Sebab, Khilafah merupakan Dinul Islam yang telah dibisyarahkan oleh Rasulullah SAW.

Wallahu A’lam Bishshowab


error: Hak Cipta dalam Undang-undang