Vaksin Menuai Kisruh: Kemana Peran Politik Negara?

Oleh: Hanaa lahifah (pemerhati sosial)

OPINI,- Beberapa pekan lalu vaksin Measles Rubella (MR) atau vaksin Rubella jadi primadona.  Betapa tidak, si Rubella ini jadi perbincangan hangat, tidak hanya jadi  perbincangan dikalangan emak-emak level rumahan, para netizen aktif di media sosial, ahli medis, apoteker, para ulama hingga ke Istana. Masing-masing mengambil bagian berdasarkan keilmuan dan pengalamannya.

Hal yang paling sering jadi jurang perdebatan, jika membahas masalah yang satu ini adalah munculnya kelompok pro-vaksin dan anti-vaksin. Bukan suatu hal yang baru dan booming di jagat media sosial, namun perdebatan ini selalu seputar status halal dan haram mengenai vaksin tersebut. Tak ada yang salah sebab masing-masing memiliki alasan dan cara pandang yang berbeda, dan tentu saja masing-masing memiliki dalil (hujjah) yang harus dipertanggungjawabkan.

Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan, saat ini sebanyak 26 negara yang merupakan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menggunakan vaksin MR (Measles Rubella) dari Serum Institute of India (SII). Ke-26 negara anggota OKI itu adalah Malaysia, Indonesia, Yordania, Iran, Turki, Lebanon, Irak, Mesir, Afghanistan, Albania, Aljazair, Azerbaijan, Bangladesh, Burkina Faso, Gambia, Republik Kirgizstan, Libya, Maladewa, Mauritania, Moroko, Senegal, Tajikistan, Tunisia, Turkmenistan, Uzbekistan dan Yaman.

“Vaksin MR yang diproduksi Serum Institute of India sudah dipakai di 26 negara anggota OKI seperti Malaysia, Iran, Kamerun dan Mozambik,” kata Bambang saat berkunjung ke redaksi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di Jakarta, Jumat (24/8).  Ia melanjutkan, vaksin MR ini telah diekspor ke lebih dari 141 negara. Serum Institute of India tetap menjadi satu-satunya pemasok vaksin MR yang telah lolos kualifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dapat memproduksi dalam kapasitas besar. www.Republika.co.id , Jum’at 24/8/2018

BACA JUGA :   Korupsi Yang Tak Kunjung Usai

Terlepas dari polemik adanya unsur babi dalam proses produksi vaksin MR dari Serum Institute of India, namun vaksin itu masih menjadi satu-satunya pilihan untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ini karena belum ada produsen lain yang mampu memenuhi standar kualitas dan kemampuan menyuplai produk. Vaksin MR diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh virus campak dan rubella (campak jerman). Imunisasi vaksin MR diberikan untuk semua anak usia sembilan bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun.

Vaksin MR/rubella menuai kisruh

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan memperbolehkan penggunaan vaksin campak-rubella (MR) dari Serum Institute of India (SII), meski mengandung unsur nonhalal karena kondisi darurat. Keputusan tersebut tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk Dari SII (Serum Institute of India) untuk Imunisasi yang diterbitkan di Jakarta, Senin (20/8/2018).

“Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini dibolehkan (mubah) karena ada kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal,” demikian bunyi ketentuan hukum dalam fatwa MUI tersebut.

Ketua IPP IDAI (Ikatan dokter anak indonesia dan Pendiri rumah vaksin) Dr. Piprim Basarah Yanuarso, memiliki penilaian sendiri terkait vaksin tersebut. Beliau menyebut status virus Rubella di Indonesia masuk kondisi darurat.

Piprim menjelaskan, darurat yang dimaksud bukan berarti penderita Rubella tidak divaksin akan mati. Namun kedaruratan ini untuk mencegah lahirnya bayi-bayi cacat yang bisa menjadi beban negara dan keluarga. Ia menegaskan vaksin sangat penting bagi manusia. Tidak hanya untuk bayi namun juga anak-anak, dewasa, dan lansia. dikarenakan Vaksin merupakan satu-satunya cara meningkatkan kekebalan spesifik manusia.

BACA JUGA :   Kartini dan Emansipasi Wanita

Ia menambahkan “Fatwa MUI yang baru nomor 33 tahun 2018, menyebut vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya haram. Namun di vaksin MR di produk akhirnya tidak ada babinya, hanya turunannya digunakan sebagai stabilizer. Karena keterpaksaan tidak ada alternatif lain, akhirnya jadi mubah atau boleh,

” lanjutnya. Ia pun menilai masyarakat harus bijak dalam menilai penggunaan unsur babi dalam proses pembuatan vaksin ini. Dalam Islam sendiri dikenal istilah “Istihalah maupun Istiklah untuk proses perubahan barang yang haram menjadi halal maupun sebaliknya.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co