Virus Pelangi, Kian Menyebar

Oleh: Masitah

(Anggota Smart With Islam Kolaka)

OPINI : Sejumlah larangan aktivitas kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) belakangan muncul di berbagai daerah. Terakhir, Pemerintah Kota Bogor yang berwacana merumuskan regulasi serupa, pasca unjuk rasa sejumlah ormas, Jumat pekan lalu. Pembuatan perda anti-LGBT ini menjadi pro-kontra karena tak ada satu pun peraturan perundang-undangan di tingkat pusat yang mengharamkan LGBT.Meski atas prinsip otonomi daerah, pemda dapat membuat regulasi demi stabilitas sosial. Dalam catatan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sepanjang tiga pekan terakhir setidaknya tiga pemda, yakni Bangka Belitung, Cianjur, dan Kalimantan Timur, mengeluarkan surat edaran bernuansa diskriminatif terhadap LGBT.

Advokat dan Analis Kebijakan Publik PKBI, Riska Carolina, menilai kemunculan perda yang bersinggungan dengan LGBT marak sejak 2015. Menurutnya, isu negatif tentang kelompok ini memuncak ketika tindak pencabulan sesama jenis kelamin hendak dimasukkan dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP).Namun Riska menganggap puluhan perda itu tak memiliki rujukan ketentuan yang lebih tinggi, yang melarang kelompok LGBT. Pemda dan DPRD disebutnya memanfaatkan celah living law atau hukum yang berlaku di masyarakat.”Diskriminasi akhirnya mengalami eskalasi dan belum pernah ada upaya yudikatif terhadap peraturan diskriminatif terhadap LGBT,” ujar Riska saat dihubungi, Minggu (11/11). (BBC NEWS)

Virus LGBT Yang Semakin Meresahkan

Virus LGBT semakin tak terkendalikan, hampir diseluruh daerah banyak masyarakat yang telah terpapar virus tersebut. Tak tanggung-tanggung hampir seluruh kalangan mengidapnya mulai anak-anak hingga dewasa. Kurang perhatiannya keluarga dan lingkungan menjadi salah satu penyebab utamanya. Pasalnya kesibukan dunia membuat masyarakat sekitar acuh terhadap apa yang terjadi, tuntutan ekonomi yang semakin mencekik membuat kebanyakan orang menjadi sibuk dan memikirkan dirinya sendiri. Bahkan peran keluarga sebagai benteng dalam tumbuh kembang anak menjadi tak berfungsi faktor tuntunan hidup yang semakin bebas membuat manusia lupa akan fitrah penciptaannya.

BACA JUGA :   Surunuddin Perintahkan OPD Berperan, Sukseskan Lomba P2WKSS

Bagi sebagian orang beranggapan bahwa virus tersebut butuh perhatian, harus dilindungi atas sikap diskriminatif sebagian kelompok yang menentang keberadaannya. Mereka harus diizinkan dan diakui keberadaannya sesuai peraturan yang berlaku berdasarkan kebebasan berekspresi bagi setiap individu. Dengan dalih seperti itu, banyak masyarakat yang salah mengartikan dan digunakan untuk perilaku menyimpang.

Sudah menjadi ciri khas dalam demokrasi memberikan kebebasan masyarakat dalam kehidupan bernegara menentukan sendiri aturan hidupnya sesuai dengan slogan yang ditawarkannya, yaitu bebas dalam beragama, bereksperi, memiliki dan berpendapat. Karenan sistem induknya terbukti membawa dampak baik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara sebagaimana yang terjadi di Amerika, sehingga membuat Indonesia sebagai mitranya pun mengikuti kehidupan ala barat dengan nama beda tapi tujuan sama, yaitu memisahkan agama dari sendi kehidupan.

Pada dasarnya demokrasi merupakan buah sistem kapitalisme ciptaan orang barat yang memiliki hasrat menguasai dunia. Mereka seolah menjadi pahlawan bagi setiap negeri yang mengalami kesulitan, menawarkan berbagai macam bantuan mulai dari ekonomi sampai pembangunan negara baik infrastruktur maupun aparat pemerintahan. Dengan tujuan menjadikan setiap negeri yang bersedia kerjasama sebagai tempat mengambil keuntungan demi memenuhi kantong-kantong kosong mereka dan menanamkan benih kerusakan untuk menghancurkan akidah umat untuk memperkenalkan dunia baru yang telah mereka siapkan.

Selain itu, mereka mendukung dan bahkan mendanai berbagai kegiatan yang hanya menimbulkan kerusakan terhadap umat, salah satunya adalah LGBT tersebut. Sistem ini benar-benar menciptakan kesenjangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karena sebagian ada yang menolak dan ada yang mendukung. Keberadaan LGBT hanya membuat moral generasi muda semakin rusak, karena penyimpangan yang tidak sesuai fitrah. Padahal Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan sebagaimana dalam firman-Nya Q.S An-Nahl : 72.

BACA JUGA :   Buka Olah raga Dan Seni, Surunuddin : Kita Tingkatkan Rasa Persaudaraan

Sudah terbukti sistem hari ini bukan merupakan solusi bagi setiap persoalan yang ada melainkan justru semakin menambah persoalan baru yang semakin mengkhawatirkan masyarakatnya. Sedangkan, umat hari ini memerlukan solusi tuntas atas setiap problematika yang ada.

Jika kita melihat persoalan tersebut tentu tidak akan selesai jika aturan yang ditetapkan berdasarkan buatan manusia. Karena hukuman bagi setiap pelaku penyimpangan dapat saja berubah (tidak tetap) sesuai dengan kepentingan dibalikknya. Contohnya kasus korupsi yang menjerat banyak pejabat negara, bukan membuatnya jera melainkan seolah memberinya kesempatan istirahat sejenak sebelum bertugas kembali menjabat sebagi perwakilan rakyat, dan masih banyak contoh kasus lainnya.

Kurangnya kesadaran umat akan hal ini membuat para kapital semakin bersemangat dalam melanggengkan aksinya menjarah sumber daya alam yang ada dengan meninggalkan kerusakan akidah dan kehancuran kebudayaan bagi negara tersebut. Ditambah semakin leluasa mereka menyebarkan berbagai macam virus mematikan yang bisa membunuh umat secara perlahan. Karena pemikiran umat kini terus-menerus mengalami kemunduran yang signifikan akibat kebebasan yang terus ditawarkan.

Umat Butuh Obat

Sudah saatnya umat disembuhkan dari virus mematikan ini dengan cara memperbaiki pola pemikirannya berdasarkan asas yang kuat dan kokoh, yaitu Islam. Islam mempu menjawab dan menuntuskan persoalan yang tengah melanda. Karena islam memiliki aturan berdasarkan Pencipta, yang apabila diterapkan tentu hukumnya tidak dapat di permainkan apalagi di perjual-belikan.

Islam menjawab secara tuntas soal penyimpangan dan kebebasan yang tengah digalakkan. Sebab sistem yang rinci dan jelas berdasarkan kitab Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW, yang telah beliau jelaskan tata cara pelaksanaannya baik itu untuk kehidupan pribadi sampai bernegara.

Tidak ada sistem lain yang mampu menyelesaikannya selain islam. Islam menjaga persatuan, kedamaian, kemuliaan dan keadilan. Tidak membedakan manusia satu dan yang lainnya hanya karena kekayaan ataukah jabatan. Sebagaimana dalam firman-Nya : “Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridlai Islam jadi agamamu..” (Q.S Al-Maidah : 3)

BACA JUGA :   Kajian Politis Menakar Arah RUU HIP

Sudah saatnya umat melanjutkan perjuangan yang telah dimulai sejak zaman Rasul dahulu, membela yang haq dan mencegah kebathilan, melalui dakwah dalam menyadarkan pemahaman umat bahwa islam merupakan solusi tuntas atas setiap persoalan dan umat butuh khalifah sebagai pemimpinnya yang menyatukan mereka dan eksistensi khilafah sebagai perisai dalam melindungi akidahnya. Agar perpecahan tidak terus terjadi di kalangan umat saat ini yang sebenarnya sama-sama menginginkan kebangkitan. Wallahu a’alam

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co