Wisata Lokal Melejit, Moral Defisit Menuai Masalah Selangit

Indonesia yang memiliki wilayah laut dan kekayaannya menjadikan negara ini memiliki potensi pariwisata yang besar, terlihat dari banyak pantai yang menyebar di seluruh garis pantai indonesia dengan pemandangan dan bentuk yang berbeda satu pantai dengan pantai yang lainnya.

Oleh : Risnawati  (Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)

Indonesia juga memiliki potensi pariwisata yang menjanjikan bagi pendapatan daerah, hampir seluruh wilayah di Indonesia tersebar potensi wisata sebagai salah satu penghasil pendapatan daerah dan negara. Dengan memanfaatkan keindahan alam baik yang alami maupun buatan, juga memanfaatkan keragaman budaya yang ada.

Salah satunya adalah wilayah Kabupaten Kolaka Utara ini pariwisata yang menjadi andalan adalah wisata pegunungan dan alam sekitarnya, wisata air terjun yang banyak kita temukan diberbagai tempat di indonesia, wisata alam ini memberikan nilai kesejukan tersendiri seperti wisata kolam dan wisata yang lainnya.

Dikutip juga dari TebarNews.com – Dermaga cinta adalah salah satu obyek wisata  Kolaka Utara yang paling banyak diminati pengunjung baik masyarakat lokal maupun pendatang. Dermaga cinta ini terletak di Pantai Beroga, Desa Pitulua Kecamatan Pitulua Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara

Sektor pariwisata saat ini menjadi primadona, di desa maupun di kota. Negara pun melirik sektor ini sebagai penghasil pendapatan negara. Maka tak heran jika saat ini pemerintah mengembangkan kawasan-kawasan pariwisata.Namun, ada banyak kemudharatan dibalik indahnya pariwisata. Bak dua sisi mata uang, di satu sisi pariwisata menghasilkan pendapatan daerah maupun negara di sisi lain pariwisata mengundang maksiat.

Seperti dilansir dalam KendariPos.com, Warga Desa Pitulua, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), resah. Pada dua tempat wisata di wilayah tersebut, Pantai Berova dan Kampung Kuliner kini dicemari banyaknya alat kontrasepsi (kondom) dan pakaian dalam wanita yang berhamburan. Kondisi tersebut diungkapkan Ahmad Yarib, warga setempat saat mengadu ke Kasatpol PP Kolut, Nurlia Piabang.

“Masyarakat Desa Pitulua khususnya saya pribadi, resah karena temuan itu. Ini mengindikasikan, jika dua destinasi wisata tersebut kerap dijadikan sebagai tempat mesum, khususnya malam hari. Apalagi Pantai Berova yang rimbun dan banyak pepohonan. Begitu juga di kampung kuliner By Pass. Kalau malam terlihat sepi. Besoknya ternyata kadang ada kami temukan kondom,” keluhnya, Selasa (6/11).

BACA JUGA :   Radikalisme Produk Kapitalisme, NU-Polda Sultra Menangkal

Yarib meminta agar Satpol PP dan kepolisian melakukan patroli lebih intens. Tak hanya itu, pada bangunan-bangunan kosong di sekitar wilayah simpang delapan Lasusua juga kerap ada muda mudi nongkrong di tempat remang. Mendengar laporan tersebut, Kasatpol PP Kolut, Nurlia Piabang, berjanji akan memaksimalkan operasi di lapangan. Sebab sejauh ini setiap malam anggotanya sudah berkeliling melakukan patroli.

Setidaknya, ia akan mencatat zona mana saja yang kerap dimanfaatkan warga untuk berbuat mesum. “Tentu laporan ini menjadi masukan. Kami juga berharap, semua masyarakat membantu kinerja anggota di lapangan baik dalam bentuk aduan dan lainnya demi kenyamanan bersama,” pungkasnya.

Kapitalisme; Biang Kerok

Penjajahan adalah metode baku penyebaran ideologi kapitalisme. Adapun uslub politik yang digunakan dalam penjajahan bisa menggunakan bantuan ekonomi melalui utang luar negeri, para ahli, dan konsep “rencana pembangunan”. Bila ditelisik lebih dalam, secara ringkas strategi penjajahan di bidang pariwisata mengikuti pola sebagai berikut:

Pertama, pendahuluan klaim pariwisata sebagai kunci pertumbuhan ekonomi. Dipaparkan berbagai data penunjang seperti pariwisata menyumbang 10 persen GDB baik langsung maupun tidak langsung (data WTTC), pendorong ekonomi paling cepat mudah dan berkelanjutan, devisa rangking 3 setelah fuels and chemicals, pendorong dan penggerak ekonomi sektor lain, penggerak globalisasi, konektivitas, integritas dan pengembangan sosio-ekonomi.

Kedua, membuat regulasi pengembangan sustainable tourism. Permen No 14 tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan diselaraskan ke dalam RPJMN untuk mendukung pencapaian tujuan Suistainable Development Goals (SDGs). Menggunakan prinsip 3P (People, Planet, Prosperity). Termasuk di dalamnya mempermudah prosedur pembuatan visa dan ijin masuk negara lain (permit entry), dan kerjasama bilateral antar negara bidang pariwisata.

Ketiga, jerat hutang lembaga dunia melalui investasi infrastruktur pariwisata. Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyepakati pinjaman senilai 300 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,1 triliun. Pinjaman ini digunakan untuk pengembangan infrastruktur sektor pariwisata untuk menambah sumber daya domestik besar yang sudah diinvestasikan dalam pariwisata.

BACA JUGA :   KALOSARA SEBAGAI INSTRUMEN UTAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA SUKU TOLAKI DI SULAWESI TENGGARA

Keempat, kapitalisasi ekonomi melalui penyediaan arus modal dan investasi pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) termasuk KEK pariwisata.

Kelima, liberalisasi sosial budaya menjadi ruh penjajahan pariwisata. Modal alam semata tanpa basis manusia tidak mampu menjamin keberlangsungan arus penjajahan di suatu negara (wilayah). Oleh karena itu para ahli UGG menyeleksi ketersediaan wisata alam dan human resources yang terkoneksi.Tujuannya agar liberalisasi sosial budaya dapat terus berjalan.

Pariwisata saat ini mengandung banyak mudharat tersebab sistem yang menaungi saat ini. Di mana sistem kapitalisme saat ini hanya mengejar manfaat dan keuntungan. Tidak sama sekali memperhatikan dampak yang akan terjadi. Seperti saat ini yang kita lihat. Di kawasan pantai misalnya, banyak wisatawan yang mengumbar aurat entah itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. Perayaan kemusyrikan Nomoni yang belum lama terjadi di Palu. Dan masih banyak lagi. Bagi para kapitalis keuntungan yang sebesar-besarnyalah yang menjadi tujuan. Tidak peduli dengan kerusakan moral, kerusakan akidah dan kerusakan alam.

Islam Solusi Tuntas Masalah Pariwisata

Sejatinya, ketika melihat dan menikmati keindahan alam, misalnya, yang harus ditanamkan adalah kesadaran akan Kemahabesaran Allah, Dzat yang menciptakannya. Sedangkan ketika melihat peninggalan bersejarah dari peradaban Islam, yang harus ditanamkan adalah kehebatan Islam dan umatnya yang mampu menghasilkan produk madaniah yang luar biasa. Obyek-obyek ini bisa digunakan untuk mempertebal keyakinan wisatawan yang melihat dan mengunjunginya akan keagungan Islam.

Namun, Islam sangat tegas melarang pembukaan tempat yang bisa mengarahkan kepada seks bebas. Misalnya prostitusi, tempat-tempat maksiat, taman-taman pacaran, dan lainnya. Industri pornografi dan pornoaksi juga dilarang. Termasuk industri kondom yang dijadikan alat pelanggeng seks bebas. Walaupun ditengarai ada manfaat, tapi itu kecil. Upaya pelarangan tersebut sangat penting mengingat lingkungan merupakan tempat hidup umat. Sebagaimana dalam kaidah Ushul Fiqhi : “Al-Wasaail Lahaa Hukmul Ghooyah” (Hukum Sarana yang digunakan sama dengan tujuan penggunaannya)

BACA JUGA :   Pelecehan Seksual Meningkat Drastis, Bagaimana Islam Menuntaskannya?

Islam juga mewajibkan negara memberikan pendidikan yang benar. Karena negara sebagai pelayan umat. Negara juga mencegah terjadinya adzab yang disebabkan perzinaan. Sebagaimana hadits rasulullah SAW, “Tidaklah riba dan zina merajalela di suatu bangsa, melainkan bangsa itu telah menghalalkan dirinya untuk mendapat adzab Allah ‘Azza Wajalla ( HR .Ahmad)

Negara menjelaskan kepada umat jika seks bebas, perzinaan, atau aborsi merupakan kriminalitas. Pelakunya diberikan sanksi berat jika perzinaan bisa dirajam dan dicambuk, serta diasingkan. Begitu pula pelaku industri seks bebas ataupun penyedia kebutuhan maksiat akan dikenai ta’zir. Yang tidak kalah penting dalam penerapan syariah Islam didukung tiga pilar. Ketaqwaan individu, masyarakat yang melaksanakan amar makruf nahi munkar, dan negara yang memberlakukan syariah secarah kaffah.

Oleh karena itu, untuk melepaskan diri dari penjajahan pariwisata dibutuhkan kesadaran, kemauan, dan kekuatan yang bersifat ideologis dalam diri penyelenggara negara dan masyarakat. Bias ideologi negara yang yang selama ini terbuka pada sosialisme-komunisme dan condong kepada kapitalisme-demokrasi harus dihilangkan.

Caranya dengan mengembalikan penerapan ideologi yang berasal dari Penguasa Alam Semesta sebagai jaminan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan politik suatu negara. Dan khilafah dengan keagungannya adalah alternatif tunggal yang sepadan untuk menghadapi penjajahan global kapitalisme. Karena Khilafah merupakan negara berdaulat yang mempunyai solusi total dari Allah SWT yaitu syariah Islam. wallahu a’lam bisswab.(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co