Wujud Taqwa: Saatnya Menerapkan Islam secara Total!

#Zulhilda Nurwulan, S. Pd,
#Zulhilda Nurwulan, S. Pd,

Oleh : Zulhilda Nurwulan, S. Pd (Aktivis Muslimah Kendari)


Idul Adha yang  juga dikenal dengan idul qurban merupakan salah satu hari raya besar bagi umat Islam. Pada momen ini seluruh umat muslim berlomba untuk meraih amal soleh bahkan merelakan sebagian hartanya untuk melakukan qurban sebagai wujud ketakwaan tertinggi kepada Rabb mereka Yaa Illahi Rabbi.

Momentum idul qurban setidaknya mengajarkan kepada kita dua perkara penting yakni persatuan dan pengorbanan. Pada momen ini ditandai dengan ibadah haji yang menggambarkan persatuan dan kesatuan umat muslim diseluruh dunia. Pada momentum ibadah haji umat islam bersatu tanpa memperhatikan perbedaan ras, suku, kewarganegaraan dan lainnya. Seluruh umat muslim berbaur di satu wilayah haram demi mencari keridhaan Allah Swt.

Kemudian, momen idul qurban merupakan bentuk pengorbanan umat dalam menyisihkan sebagian harta, mengedepankan taqwa, menghilangkan nafsu dunia dalam menyelenggarakan ibadah qurban. Qurban pertama kali dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim As. Kala itu Nabi Ibrahim as harus mengorbankan putra kesayangannya yang selama puluhan tahun dinantikannya. Namun, karena ketaatannya kepada Allah tak sedikit pun ragu terbesit dihatinya untuk menyegerakan perintah Allah SWT.

Dikisahkan saat itu Nabi Ibrahim as tengah berbahagia dengan kehadiran seorang putra yang telah lama didambakannya. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as. untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Allah SWT berfirman:

“Anakku, sungguh Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu (TQS ash-Shaffat [37]: 102).”

Betapa sedih perasaan Nabi Ibrahim as kala itu ketika tengah berbahagia merawat dan mengasihi anandanya Nabi Ismail as namun seketika itu juga Allah memerintahkan untuk menyembelih buah hati kesayangannya itu. Perintah ini begitu berat  namun dengan kesabaran dan ketaatan, Nabi Ismail as menyambut perintah Allah Swt yang diturunkan pada ayahnya. Ini sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah  SWT:

Ayah, lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar (TQS ash-Shaffat [37]: 102).

Kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. tersebut telah menjadi teladan bagi kaum Muslim saat ini. Teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban. Juga teladan dalam ketaatan, perjuangan dan pengorbanan demi mewujudkan ketaatan pada aturan Allah SWT secara kâffah.

Sayangnya, hal ini tidak diterapkan dalam seluruh lini kehidupan melainkan hanya sebagian saja. Persatuan umat hanya digambarkan saat pelaksanaan ibadah haji namun bercerai-berai setelah ibadah haji usai. Penderitaan saudara muslim dibelahan negeri islam yang lain tidak akan menjadi luka dan tanggung jawab bagi umat muslim di negara yang lain. Aturan islam hanya berlaku sempurna saat pelaksanaan haji namun akan disingkirkan saat mengatur perkara politik negara.

Ketaatan Total Bentuk Konsekuensi Keimanan

Sudah seharusnya wujud ketaatan itu direalisasikan dengan menerapkan islam secara total diseluruh aspek kehidupan mulai dari individu hingga negara. Sebagaimana firman Allah Swt:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh nyata kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Beriman kepada Allah bermaksud menjalankan segala yang Allah perintahkan dan meninggalkan segala yang Allah larang. Itu artinya, keimanan meniscayakan ketaatan pada syariah secara kaffah. Sayangnya, banyak kaum muslimin hari ini bahkan alergi dengan ajaran agama mereka sendiri. Mereka menolak penerapan syariah Islam secara kaffah (total). Sebagian ajaran islam mereka hapuskan dan hilangkan dari kehidupan umat, sepeeti jihad dan khilafah. Mereka menuduh Khilafah mengancam bangsa dan menyamakannya dengan ajaran Komunisme. Padahal ajaran Komunisme itu anti Tuhan, anti agama, termasuk anti ulama!

Mengaku islam namun mengelakkan ajarannya adalah bentuk penyimpangan terstruktur. Islam adalah agama dari Allah SWT. Semua ajarannya adalah benar. Tak ada yang perlu ditakuti. Apalagi dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, ajaran Islam justru untuk memperbaiki kehidupan manusia. Islam hadir ditengah umat melalui Rasulullah Saw untuk menebarkan rahmat bagi semesta alam. Kehadiran islam di tengah umat untuk menghapus segala bentuk kezaliman dan kediktatoran manusia.

Dalam kondisi sekarang, sudah saatnya kaum muslim berjuang keras melenyapkan sistem kufur yang membelenggu mereka, seperti kapitalisme, liberalisme, sekularisme, sosialisme dan komunisme. Kemudian mereka wajib mengganti semua itu dengan syariah Islam. Syariah Islam pasti menghadirkan ketenteraman, mewujudkan kesejahteraan serta mendidik perilaku manusia agar memiliki kesantunan-akhlak mulia.

Penerapan Syariah Secara Total, Wujud Ketaatan yang Nyata

Penerapan islam secara total adalah bentuk konsekuensi dari keimanan. Mengaku beriman kepada Allah Swt artinya bersedia menerapkan hukum-hukum Allah secara total dalam seluruh lini kehidupan. Islam agama yang damai. Tak ada yang perlu ditakuti dari islam termasuk ajarannya.

Islam membimbing kaum Muslim dengan ajaran yang mulia. Islam pun memberikan perlindungan kepada segenap umat manusia. Menaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya adalah konsekuensi keimanan seorang Muslim. Keimanannya akan menuntun dirinya untuk senantiasa taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak membangkang sedikitpun terhadap aturan-Nya. Allah SWT berfirman:

Tidak patut bagi Mukmin dan Mukminat, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat secara nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36)

Berdasarkan hal tersebut diatas sudah waktunya umat kembali kepada kebenaran ajaran islam dengan berhukum hanya dengan islam yang bersumber dari Allah Swt dan melenyapkan hukum buatan manusia yang hanya membawa kesengsaraan. Wallahu’alam biishowwab


error: Hak Cipta dalam Undang-undang